Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang
Tulisan kecil ini saya persembahkan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Dan sebagai usaha kecil saya untuk merawat tradisi Batak yang luhur.
Saya lama merenungkan lukisan tua William Blake tahun 1795, tentang Nebukadnezar. Seorang raja besar yang merangkak di padang, memakan rumput seperti lembu. Daniel 4 mencatat, bukan karena ia dikalahkan musuh, tetapi karena ia lupa bersyukur dan berkata di dalam hatinya tentang kehebatannya sendiri.
Ompung kita memberi nama untuk keadaan seperti itu: Mago Sahala.
Sahala adalah terang. Ia adalah titipan dari Tuhan. Ia hanya mau tinggal pada hati yang bening, pada hati yang masih berani berkata: _Ahu do na hurang._
Saya belajar dari padi di Samosir. Padi yang berisi menunduk, bukan karena kalah oleh angin, tetapi karena ia tahu ia adalah bagian dari hamparan. Ia hidup karena tanah, karena air, karena matahari yang bukan miliknya.
Ompung berkata:
_Eme na marisi unduk biur na, eme na marlapung dirgak biur na._
Di sanalah letak kemuliaan kita sebagai orang Batak. Kehormatan tidak datang dari seberapa tinggi kita pernah berdiri, tetapi dari seberapa dalam kita mau merendah untuk saling menopang. Dalihan Na Tolu mengajarkan kita itu: menunduk untuk menopang.
Maka tugas kita hari ini sederhana saja. Menjaga hati tetap bening. Menjaga tutur tetap santun. Menjaga persaudaraan tetap hangat. Bekerja dengan jujur, dan berdoa dengan setia.
Karena gelas yang tetap kosong akan selalu bisa diisi dengan kebaikan yang baru.
Biarlah ini menjadi doa kita bersama:
Martangiang ma hita, asa tongtong hot sahala di tonga-tonganta, jala marroha jolma, marparange na denggan ma hita di jolo ni Debata.
Soli Deo Gloria.

