BerandaBudayaLage-Lage Tiar di Atas Amak Bolak

Lage-Lage Tiar di Atas Amak Bolak

Dari Rumah sebagai Ruang Perjumpaan ke Ruang Kehidupan Modern

Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang
Pegiat Lingkungan dan Budaya, bermukim di lereng Gunung Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir

Ada benda sederhana dalam kehidupan Batak yang mudah dilihat, tetapi belum tentu dipahami maknanya. Salah satunya lage-lage tiar yang diletakkan di atas amak bolak. Sepintas keduanya hanyalah tikar. Namun, dalam ruang perjumpaan adat, cara keduanya digunakan dapat membuka pengetahuan tentang tempat, hubungan, penghormatan, pelayanan, dan cara masyarakat menata kebersamaan.

Pembedaan istilahnya penting. Amak bolak merupakan hamparan tikar yang luas, sedangkan lage-lage tiar adalah tikar yang dibentangkan di atasnya. Dalam konteks tertentu, lage-lage tiar menjadi tempat duduk hasuhutun, sementara pihak-pihak lain mengambil tempat sesuai hubungan dan kedudukannya dalam suatu acara.

Orang yang memahami adat biasanya tidak perlu diberi petunjuk panjang untuk mengetahui di mana ia harus duduk. Ia membaca hubungan: siapa hasuhutun, siapa dongan tubu, hula-hula, boru, dan siapa pihak lain yang hadir. Tempat duduk, karena itu, bukan sekadar tata ruang. Ia merupakan bahasa sosial.

Di sini Dalihan Na Tolu dapat dibaca sebagai kerangka untuk menjawab pertanyaan “siapa?” Siapa kita dalam suatu perjumpaan, bagaimana hubungan kita dengan pihak lain, dan bagaimana hubungan itu menentukan sikap? Dalam hubungan semarga, misalnya, manat mardongan tubu bukan sekadar nasihat, melainkan tuntutan untuk menjaga persaudaraan agar tidak mudah retak.

Tetapi hubungan saja belum cukup. Setiap perjumpaan juga membutuhkan ukuran: berapa orang yang hadir, seberapa luas ruang tersedia, berapa kebutuhan yang harus disediakan, dan bagaimana semuanya ditata secara proporsional.

Di sinilah Suhi Ni Ampang Na Opat dapat dibaca sebagai ruang takaran. Ampang menjadi cara melihat ukuran, kapasitas, kecukupan, proporsi, keseimbangan, dan keadilan. Dengan demikian, setelah pertanyaan siapa, muncul pertanyaan berapa, lalu seberapa adil.

BACA JUGA  Motif Batak Melayu Khas Sanggar Seni Pendopo Tiga

Pembacaan ini membuat Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat saling melengkapi. Yang satu membantu membaca hubungan; yang lain membantu menimbang ukuran dan keseimbangannya. Dalam sebuah perjumpaan, kehadiran dongan sahuta, tetangga, sahabat, ale-ale, atau kerabat lainnya merupakan kenyataan sosial yang harus diperhitungkan dalam penataan ruang dan pelayanan. Namun, mereka tidak dengan sendirinya menjadi definisi Suhi Ni Ampang Na Opat.

Pada rumah Batak masa lalu, pengetahuan semacam itu dipelajari bukan terutama melalui buku. Anak-anak melihat orang tua menghamparkan amak bolak, meletakkan lage-lage tiar, menata tempat duduk, menyiapkan makanan, dan menerima tamu. Mereka menyaksikan boru menjalankan tanggung jawab pelayanan dan parsonduk bolon menyiapkan serta menyajikan makanan.

Rumah dengan demikian bukan hanya tempat tinggal. Ia menjadi ruang belajar kebudayaan. Anak belajar dengan melihat, mengikuti, membantu, dan akhirnya memahami. Tata ruang, percakapan, pelayanan, cara menyapa dan menghormati orang lain menjadi pelajaran yang hidup.

Kini ruang perjumpaan berubah. Acara dapat berlangsung di rumah, halaman, balai atau gedung pertemuan, hotel, ballroom, restoran, auditorium, hingga ruang digital. Sebagian pekerjaan yang dahulu dikerjakan keluarga kini dapat ditangani katering, hotel, event organizer, atau petugas banquet. Pergeseran ini tidak dengan sendirinya berarti adat kehilangan makna. Yang berubah terutama ialah bentuk dan pembagian fungsi.

Justru di sinilah pertanyaan penting muncul: ketika fungsi berpindah, apakah pengetahuannya ikut diwariskan?

Seorang anak yang dahulu melihat langsung bagaimana sebuah rumah dipersiapkan untuk menerima tamu kini mungkin hadir dalam acara yang seluruh pelayanannya telah ditangani tenaga profesional. Ia menikmati hasilnya, tetapi belum tentu mengetahui pengetahuan budaya yang dahulu menyertai proses tersebut.

Karena itu, yang perlu dirawat bukan hanya bendanya. Lage-lage tiar dan amak bolak adalah benda; cara menggunakannya merupakan praktik; pengetahuan tentang tata hubungan dan tata ruang merupakan pengetahuan; keterampilan melayani merupakan kecakapan; sedangkan rumah dan tempat perjumpaan menjadi ruang sosialnya. Semuanya saling terkait.

BACA JUGA  Memaknai Konsep Dalihan Na Tolu Dalam Kehidupan Masyarakat Batak

Era digital memberi peluang baru. Pengetahuan tersebut dapat ditulis, difoto, direkam, dan dipelajari kembali oleh generasi berikutnya. Digitalisasi tidak harus menjadi lawan kebudayaan. Ia dapat menjadi sarana memperpanjang ingatan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata apakah lage-lage tiar masih diletakkan di atas amak bolak. Persoalannya ialah apakah kita masih memahami mengapa ia diletakkan demikian.

Ruang boleh berubah. Peralatan dan pelayanan boleh berubah. Cara generasi muda berjumpa pun boleh berubah. Tetapi kebutuhan untuk saling menerima, menempatkan diri, menghormati, mengukur kecukupan, dan menjaga keadilan dalam kebersamaan tetap ada.

Mungkin itulah pelajaran dari sebuah tikar sederhana: kebudayaan bukan hanya apa yang kita hamparkan di lantai, melainkan bagaimana kita menata manusia yang duduk di atasnya.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH