BerandaFeatureSinaok, Makanan Ringan Berbahan Original Terlupakan?

Sinaok, Makanan Ringan Berbahan Original Terlupakan?

MEDAN, PILAR MERDEKA – Di sela suara sendok yang beradu dengan piring pecal, seorang opung tiba-tiba menyebut satu kata yang kini jarang terdengar, Sinaok.

Kata itu seketika membawa ingatan pada suasana kampung di Desa Janji Martahan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, pada masa ketika makanan tidak sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi bagian dari cara bertahan hidup.

Sinaok bukan makanan modern yang mudah ditemukan di pasar ataupun toko. Sinaok lahir dari kebiasaan orang-orang tua dahulu yang memanfaatkan padi dengan penuh perhitungan. Tidak ada yang terbuang. Semua diolah dengan bijak.

“Bahan utamanya dari padi,” ujar sang opung sambil menikmati pecalnya kala itu.

Cerita tentang Sinaok lalu mengalir perlahan. Padi yang baru dipanen direndam terlebih dahulu hingga hampir pecah atau mulai tumbuh. Setelah itu, sebagian padi digunakan untuk bibit tanam kembali. Namun sebagian lagi tidak ikut ditanam.

Padi yang tersisa itulah yang kemudian digongseng, setelah pecah, butir padi ditumbuk hingga halus. Hasil tumbukan lalu ditampi hingga bersih untuk dijadikan Sinaok.

Cara itu menjadi kebiasaan masyarakat kampung zaman dahulu. Saat padi direndam untuk musim tanam berikutnya, mereka sekaligus membuat bahan makanan dari padi yang sama. Tidak ada proses yang sia-sia.

“Sekali kerja dua kali panen,” kata opung sederhana.

Kalimat itu terdengar biasa, tetapi menyimpan makna besar tentang kehidupan orang-orang dulu. Mereka hidup hemat, cermat, dan dekat dengan alam. Dari satu pekerjaan, mereka bisa menyiapkan masa depan sekaligus memenuhi kebutuhan makan keluarga.

Sinaok bukan hanya soal makanan. Sinaok adalah cerita tentang kecerdikan orang tua dahulu dalam bertahan hidup. Tentang bagaimana mereka memanfaatkan hasil sawah tanpa membuang sedikit pun.

BACA JUGA  Samosir Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa

Kini, nama Sinaok mulai jarang terdengar. Banyak anak muda bahkan tidak lagi mengenal istilah itu. Modernisasi perlahan menghapus kebiasaan lama yang dulu sangat akrab di kampung-kampung.

Padahal di balik makanan sederhana itu, tersimpan kenangan, kerja keras, dan cara hidup masyarakat lama yang penuh makna.

Pertanyaan pun muncul pelan, sama seperti yang terlintas saat mendengar cerita opung tadi: apakah sekarang masih ada orang yang membuat Sinaok?

Mungkin masih ada, di sudut kampung yang belum sepenuhnya berubah. Atau mungkin Sinaok kini tinggal cerita yang hanya hidup dalam ingatan para orang tua. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH