MEDAN, PILAR MERDEKA – Minggu pagi, 3 Mei 2026, Sirkuit Taman Cadika, Medan Johor dipenuhi semangat. Puluhan anak Medan Inline Skate (MIS) tampak ceria melaju dengan sepatu roda, berlatih sejak dini dengan antusias membara.
Anak-anak MIS terlihat rapi menggunakan perlengkapan lengkap. Mereka mengenakan seragam klub MIS, sepatu roda, serta alat keselamatan seperti helm, pelindung lutut, pelindung siku, dan sarung tangan. Perlengkapan ini wajib digunakan untuk mencegah cedera selama latihan.
Latihan sepatu roda di Klub MIS dipandu oleh seorang pelatih bernama Aulia, yang akrab disapa Kak Aulia oleh para peserta. Ia membimbing anak-anak dengan sabar, dimulai dari teknik dasar hingga kemampuan meluncur.
“Anak-anak umur 4 sampai 5 tahun sudah bisa belajar sepatu roda. Yang penting diajarkan dari dasar agar aman,” ujar Aulia saat ditemui di lokasi latihan.
Inline skates atau sepatu roda jenis ini memiliki roda yang tersusun sejajar di bagian bawah sepatu. Jenis ini dikenal lebih stabil dan sering digunakan untuk olahraga maupun rekreasi.
Metode latihan MIS dimulai dari tahap paling dasar. Anak-anak diajarkan berdiri seimbang terlebih dahulu sebelum belajar berjalan. Setelah itu, mereka dilatih berhenti dengan dua kaki, lalu mulai meluncur secara perlahan.
Aulia menjelaskan, perkembangan setiap anak berbeda. Ada yang cepat menguasai, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Namun, dengan latihan rutin dan bimbingan yang tepat, kemampuan anak akan berkembang.
“Kalau belajar tidak terarah, risiko cedera bisa lebih berbahaya. Tapi sejauh ini belum pernah ada cedera parah karena semua diajarkan dari basic dulu,” jelasnya.
Keselamatan jadi prioritas utama dalam latihan. Anak-anak yang belum stabil biasanya dilatih terlebih dahulu di area rumput sebelum mencoba lintasan aspal. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko jatuh yang lebih fatal.
“Kalau langsung di aspal, anak bisa langsung meluncur dan itu berbahaya. Jadi kita latih dulu di rumput sampai benar-benar siap,” tambah Aulia.
Prestasi MIS Medan juga tidak bisa dianggap remeh. Klub ini telah melahirkan atlet yang berprestasi hingga tingkat nasional, termasuk dua atlet yang meraih juara di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Aulia sendiri mengaku telah mengenal sepatu roda sejak usia 4 tahun dan mulai serius menekuni olahraga ini saat SMA. Ia menekankan pentingnya konsistensi latihan untuk mencapai hasil maksimal.
“Kalau difokuskan, dalam sebulan anak bisa menguasai dasar. Tapi kembali lagi ke masing-masing anak,” katanya.
Nilai kehidupan dari sepatu roda juga menjadi bagian penting dalam latihan. Anak-anak diajarkan untuk tidak mudah menyerah, berani mencoba, dan bangkit dari kegagalan.
“Kalau jatuh, bangun lagi. Kalau kalah, latihan lagi. Itu yang paling utama dari olahraga,” ujar Aulia.
Sirkuit Cadika Medan Johor menjadi lokasi rutin latihan, khususnya untuk kelas kecepatan dan standar. Suasana latihan yang penuh semangat juga dirasakan oleh para peserta.
Seorang anak perempuan mengaku telah dua tahun berlatih sepatu roda dan sudah beberapa kali mengikuti kompetisi di daerah. Ia bahkan pernah meraih juara.
“Alhamdulillah pernah juara,” ucapnya singkat.
Semangat anak-anak MIS juga terlihat dari pengakuan peserta lainnya. Seorang anak laki-laki mengatakan bahwa belajar sepatu roda tidak sulit jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
“Kalau rutin latihan pasti bisa,” ujarnya.
Latihan sepatu roda MIS bukan sekadar olahraga, tetapi juga membentuk karakter anak sejak dini. Disiplin, keberanian, dan semangat pantang menyerah menjadi bekal penting bagi masa depan mereka. (Monang Sitohang)

