MEDAN, PILAR MERDEKA – Taman Cadika atau Taman Hutan Kota Cadika tak pernah sepi setiap akhir pekan. Sejak Sabtu pagi hingga Minggu dan hari libur, kawasan ini selalu ramai pengunjung dari berbagai usia. Anak-anak, remaja, hingga orang tua datang silih berganti untuk menikmati waktu luang.
Taman Cadika ramai dikunjungi warga dari berbagai penjuru Kota Medan dan sekitarnya. Mereka datang dengan beragam cara. Ada yang mengendarai sepeda motor, mobil, hingga sepeda. Sebagian lainnya memilih berjalan kaki, terutama warga dari kawasan Johor yang lokasinya tidak terlalu jauh.
Setibanya di pintu masuk, pengunjung dikenakan biaya parkir yang terjangkau. Mobil dikenai tarif Rp5.000, sementara sepeda motor Rp3.000. Setelah itu, hamparan ruang terbuka hijau dan berbagai fasilitas langsung menyambut para pengunjung.
Taman Hutan Kota Cadika ramai bukan hanya untuk bersantai, tetapi juga menjadi pusat aktivitas olahraga. Banyak pengunjung datang untuk jogging. Kaum orang tua terlihat mendominasi lintasan jalan santai. Ada yang berjalan berpasangan, ada pula yang datang berjalan bersama teman-teman. Mereka mengitari kawasan taman, lapangan, hingga jalur menuju area lapangan kuda dan hutan kota.

Percakapan sederhana pun menghidupkan suasana. “Sudah berapa kali keliling pak?” tanya seorang pria sepuh kepada pria separuh baya, Sabtu pagi (25/4). “Saya tidak hitung putaran, Pak. Saya hitung jam saja. 45 menit berkeliling sudah cukup,” jawab pria bertopi oranye itu.
Pria sepuh tersebut, yang merupakan mantan pemain PSMS era 80-an, menimpali dengan penuh semangat. “Bagus itu, bisa bakar lemak. Apalagi matahari pagi ini pas terik,” ujarnya.
Selain olahraga, Taman Cadika ramai dengan aktivitas yang menyentuh sisi emosional keluarga. Area rusa menjadi salah satu daya tarik utama, terutama bagi anak-anak. Dengan mata berbinar, mereka mendekati pagar sambil membawa makanan yang dibeli dari penjaga dengan harga Rp 5000 perbungkus.
Orang tua dengan sabar mendampingi anak-anaknya, menciptakan momen kebersamaan yang sederhana namun berkesan. Tak jarang ada anak yang diajak pulang masih enggan beranjak.

Di sudut lain, lapangan bola kaki dan basket tidak pernah sepi. Remaja hingga orang dewasa saling berbagi ruang untuk bermain. Tawa, teriakan, dan semangat kompetisi ringan menjadi warna tersendiri. Kemudian tak sedikit pengunjung memilih tempat teduh lalu membentangkan tikar lalu menjadikan wadah berkumpul bersama teman atau keluarga.
Aktivitas ini memperlihatkan bahwa Taman Cadika bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang interaksi sosial.
Bagi anak muda, arena skateboard menjadi magnet tersendiri. Setiap akhir pekan, papan-papan meluncur di atas lintasan, diiringi sorak teman-teman. Tak jauh dari sana, arena sepatu roda juga dipenuhi anak-anak. Mereka meluncur dengan riang, sementara orang tua menunggu di pinggir, berbincang santai dengan sesama pengunjung.
Taman Cadika ramai juga menawarkan pengalaman unik melalui kegiatan berkuda. Anak-anak hingga orang dewasa dapat belajar menunggang kuda atau sekadar berkeliling. Kehadiran sado menambah nuansa tradisional, memberi pilihan bagi keluarga untuk menikmati taman dengan cara berbeda.
Taman Cadika menawarkan ketenangan setelah lelah beraktivitas. Di sekitar danau buatan Paya Badau, pengunjung bisa beristirahat sambil menikmati suasana alam di kafe Pandawa dan ada satu lagi kafe berkuda juga menjadi tempat singgah yang nyaman, menghadirkan momen tenang di tengah keramaian.
Akhirnya, Taman Cadika bukan sekadar ruang terbuka, melainkan menjadi tempat favorit untuk berkumpul, berolahraga, bermain, dan berbagi kebahagiaan. Di setiap akhir pekan, taman ini menghadirkan cerita-cerita kecil yang penuh makna bagi warga Kota Medan. (Monang Sitohang)


