PILAR MERDEKA— Kalimantan Barat tidak hanya menjadi wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, tetapi juga menjadi salah satu titik transit bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai daerah sebelum melanjutkan perjalanan menuju negara penempatan.
Seperti yang terjadi Kamis (10/9/2026), sebanyak 234 Pekerja Migran Indonesia yang transit di Bandara Internasional Supadio, Pontianak. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Aceh, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
Di antara berbagai negara tujuan penempatan, Malaysia, khususnya Sarawak, menjadi salah satu wilayah yang diminati PMI. Sektor perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu bidang pekerjaan yang banyak dituju.
Kedekatan geografis Sarawak dengan Kalimantan Barat yang memiliki perbatsan langsung sepanjang 980 kilometer serta adanya akses perjalanan darat melalui wilayah perbatasan menjadikan Kalimantan Barat memiliki posisi strategis dalam mobilitas PMI dari berbagai daerah di Indonesia menuju Malaysia.
Mengutip keterangan Humas BP3MI Kalbar, seorang PMI asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, Khaerudin, yang ditemui saat transit di Bandara Supadio, bercerita dirinya pernah bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit di sekitar Kuala Lumpur.
Ia memilih kembali ke Indonesia setelah merasa pendapatan yang diterimanya semakin menurun dan tidak lagi sesuai dengan harapan. Pada keberangkatan sebelumnya, ia mengaku tidak melalui prosedur resmi karena hanya mengikuti ajakan orang lain.
Pengalaman tersebut membuatnya memilih jalur penempatan yang berbeda. Setelah memperoleh informasi dari tetangga mengenai lowongan pekerjaan di perkebunan kelapa sawit di Bintulu, Sarawak, ia mengikuti proses penempatan melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dengan skema Private to Private (P to P). Melalui proses tersebut, ia memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai kontrak kerja dan besaran upah yang sesuai dengan upah minimum di negara penempatan.
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Barat, Kombes Pol. Ahmad Fadlin, mengatakan, tingginya mobilitas Pekerja Migran Indonesia yang transit di Bandara Supadio menunjukkan posisi Kalimantan Barat sebagai salah satu jalur strategis perjalanan Pekerja Migran Indonesia menuju negara penempatan, khususnya Malaysia. Kondisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak turut mendukung pergerakan Pekerja Migran Indonesia dari berbagai wilayah Indonesia.
“Kalimantan Barat memiliki posisi yang strategis karena berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Kondisi geografis ini menjadikan Kalimantan Barat tidak hanya sebagai wilayah perbatasan, tetapi juga salah satu titik transit bagi Pekerja Migran Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia yang akan melanjutkan perjalanan menuju negara penempatan,” ujar Fadlin.
Menurutnya, Pekerja Migran Indonesia yang akan bekerja ke luar negeri perlu memastikan seluruh proses penempatan dilakukan melalui jalur resmi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mereka juga perlu memahami informasi mengenai perusahaan penempatan, jenis pekerjaan, lokasi kerja, kontrak kerja, besaran upah, serta hak dan kewajiban selama berada di negara penempatan.
Monitoring keberangkatan yang dilaksanakan petugas Helpdesk BP3MI Kalimantan Barat di Bandara Supadio merupakan bagian dari upaya memastikan Pekerja Migran Indonesia memperoleh layanan dan pelindungan sebelum melanjutkan perjalanan ke negara penempatan.
Dalam kegiatan tersebut, petugas juga mengingatkan Pekerja Migran Indonesia untuk menjaga kesehatan, memahami serta mematuhi budaya kerja dan ketentuan perusahaan di negara penempatan.
Selain itu, Pekerja Migran Indonesia diimbau segera menghubungi Perwakilan Republik Indonesia atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) terdekat apabila menghadapi kendala selama bekerja. Langkah tersebut penting agar mereka dapat memperoleh bantuan dan pelindungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (*/di)

