MEDAN, PILAR MERDEKA – Kolak labu kuning dan ubi jalar menjadi pilihan hangat untuk menu berbuka puasa hari ini, Sabtu (28/2). Sajian sederhana ini bukan sekadar takjil, tetapi juga menghadirkan rasa manis yang menenangkan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Kolak labu kuning dan ubi jalar dikenal sebagai salah satu menu populer di bulan Ramadan. Kolak kerap disajikan sebagai camilan manis saat berbuka puasa. Selain kolak pisang, singkong, atau campuran kolang-kaling dan sagu mutiara, perpaduan labu kuning dan ubi jalar juga menjadi pilihan yang tidak kalah menggugah selera.
Aroma santan yang gurih dan gula merah yang menyatu dengan lembutnya labu kuning serta ubi jalar menciptakan rasa manis yang pas di lidah. Tekstur yang lembut membuat menu ini mudah dinikmati oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Untuk membuat kolak labu kuning dan ubi jalar, bahan yang perlu disiapkan adalah 600 gram labu kuning, 600 gram ubi jalar, 250 mililiter santan kental, 2 liter santan encer, 400 gram gula merah, 1/2 sendok teh garam, 5 sendok makan gula pasir, dan 2 helai daun pandan.
Langkah pertama, labu kuning dibersihkan, dikupas, lalu dipotong berbentuk dadu. Ubi jalar juga dikupas dan dipotong dengan ukuran yang sama agar matang merata saat direbus.
Selanjutnya, siapkan panci sesuai ukuran bahan. Masukkan santan encer ke dalam panci, tambahkan daun pandan untuk memberikan aroma harum. Masukkan gula merah yang telah dipotong kecil-kecil agar cepat larut, lalu aduk hingga tercampur.
Setelah itu, masukkan potongan labu kuning, ubi jalar, dan garam. Masak hingga labu dan ubi jalar menjadi lembut. Proses ini penting agar tekstur kolak terasa empuk dan nikmat saat disantap.
Setelah labu dan ubi jalar matang, tambahkan santan kental dan gula pasir. Aduk perlahan hingga semua bahan tercampur rata dan rasa manisnya seimbang. Jika rasa sudah pas dan tekstur sudah lembut, matikan kompor.
Kolak labu kuning dan ubi jalar siap disajikan sebagai menu berbuka puasa. Sajian ini menghadirkan kehangatan, rasa manis yang menenangkan, dan kebersamaan di meja makan saat azan magrib berkumandang.
Menu sederhana ini membuktikan bahwa kebahagiaan berbuka puasa bisa hadir dari hidangan rumahan yang dibuat dengan penuh perhatian. (Monang Sitohang)

