Oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si.
Di sebuah aula musyawarah besar di tengah kota, panggung itu penuh. Di barisan depan duduk mereka yang menyandang tanda zaman: Selempang Profesor, Toga Doktor, jas anggota DPR RI, seragam Purnawirawan Kolonel, dan Jubah Pendeta. Lampu kristal memantul di kening-kening yang terpelajar itu.
Dan di barisan belakang, duduk pula mereka yang matanya masih bening: generasi muda. Anak-anak dari komunitas itu. Mahasiswa, sarjana-sarjana muda, profesional muda yang baru pulang dari perantauan. Mereka yang digadang-gadang akan menerima estafet dan transformasi kelembagaan dan pimpinan ini secara utuh, lintas generasi. Mereka datang dengan catatan, dengan harapan, dengan cita-cita. Mereka kira akan belajar tentang cara memimpin dan memecahakan masalah di era digital.
Kita yang di tengah merasa aman. Kapal besar marga kita dinahkodai orang pintar, dan penumpangnya ada generasi penerus.
Lalu seorang dari yang paling tinggi gelarnya berdiri dan mengusulkan dengan suara tenang namun lantang :
“Mulai hari ini, untuk menjadi pengurus dari ranting hingga pusat, termasuk Dewan Pakar, tak perlu lagi syarat pendidikan. Untuk menyongsong era digital lima tahun ke depan.”
Hening. Saya menunggu tawa, karena saya kira itu lelucon. Tapi yang datang justru anggukan. Anggukan pelan, serempak, dari barisan Profesor, Doktor, Sarjana, pengusaha, anggota dewan, tentara dan polisi, petani, pedagang itu. Mereka diam. Dan diam mereka adalah persetujuan paling nyaring.
Saya menoleh ke barisan belakang. Ke generasi muda itu. Saya melihat dahi mereka berkerut. Mereka bingung. Mereka yang sedang berjuang mati-matian mengejar S1, S2, yang sedang menabung untuk sertifikasi, yang percaya bahwa marga ini akan menghargai ilmu mereka, hari itu diajari pelajaran paling pahit: ternyata ilmu tidak diperlukan.
Di luar aula itu, di kampung-kampung, di ladang-ladang yang jauh dari lampu kristal, ada teriakan lain yang sudah berumur ratusan tahun. Teriakan seorang bapak yang bajunya sobek karena cangkul.
Ia berteriak kepada langit, kepada anaknya:
“Hu gogo pe mangula, arian nang bodari asal ma singkola anakhi sa timbo-timbona. Anakhonhi do hamoraon di au.”
Biarlah aku kerja keras bagai kuli penuh keluh, asal anakku sekolah setinggi-tingginya. Anakkulah kekayaanku, kebangaanku.
Itulah falsafah kita. Seorang ayah rela menjadi pangula si jual gogo, kuli, demi mewariskan tangga pendidikan untuk anaknya.
Di aula ber-AC itu, di depan mata anaknya sendiri, tangga itulah yang hendak kita bakar.
Tangga yang Dibakar di Depan Anak
Ada kebiasaan lama dalam perebutan kuasa: membakar tangga setelah sampai di atas. Tapi kali ini lebih kejam. Tangga itu dibakar di depan anak-anak yang sedang menaikinya.
Jika pendidikan tidak penting, mengapa yang memimpin pantia, pemimpin sidang harus yang berpendidikan tinggi? Jika kepakaran tidak perlu, mengapa kita masih butuh Dewan Pakar? Apa yang akan kita katakan kepada generasi muda yang hadir itu? “Nak, bapakmu sudah jadi Profesor, tapi kamu tak perlu sekolah untuk jadi pengurus?”
Lima periode sebelum ini, standar itu masih kita jaga seperti api unggun. Pemimpin kita adalah Kolonel TNI, aparatur golongan tinggi, berijazah S1. Ia menjadi contoh bagi anak muda: kalau mau memimpin, sekolah dulu, mengabdi dulu. Kini contoh itu hendak kita hapus. Bukan karena petanya salah, tapi karena peta itu menghalangi jalan bagi jagoan yang kita jagokan.
Apa warisan lintas generasi yang kita siapkan? Estafet apa yang akan kita berikan?
Cara Dunia Menitipkan Masa Depan
Philip dari Makedonia tidak memberi tahta dulu kepada Alexander. Ia memanggil Aristoteles untuk menjadi gurunya. Jepang yang luluh lantak mengirim ribuan anak mudanya menjadi kuli di laboratorium Jerman dan Amerika. Hatta ke Erasmus, Soekarno ke ITB.
Mereka melakukan apa yang dilakukan si petani jual gogo dan berkeringat di ladang: rela menjadi kuli, asal anak bangsanya lebih pintar. Mereka menitipkan masa depan kepada orang yang lebih pintar dari dirinya.
Kita hari ini melakukan kebalikannya. Kita menitipkan masa depan kepada standar yang lebih rendah, agar diri kita terlihat memenuhi syarat.
Diam yang Dilihat Anak Muda
Yang paling melukai bukan usulannya. Yang melukai adalah diamnya barisan terpelajar di ruangan itu, yang disaksikan langsung oleh generasi muda.
Para Prof, Dr, anggota dewan, dan purnawirawan itu tahu persis usul itu keliru. Tapi mereka diam, karena sudah menghitung: biarlah standar runtuh, asal kelompok kami yang duduk.
Hari itu, generasi muda tidak hanya belajar tentang organisasi. Mereka belajar tentang pengkhianatan. Mereka belajar bahwa gelar tinggi bisa berpasangan dengan nyali kecil. Mereka belajar bahwa di aula besar, kebenaran bisa dikalahkan oleh anggukan.
Di luar, bapak si jual gogo (buruh tani berkeringat) masih mencangkul di bawah terik, percaya bahwa anaknya akan sekolah setinggi-tingginya. Di dalam aula, di depan mata anaknya itu sendiri, anak yang sudah sekolah setinggi-tingginya itu sedang berunding bagaimana caranya agar sekolah tidak lagi diperlukan.
Jika transformasi lintas generasi berarti mewariskan cara berpikir yang merendahkan ilmu, maka kita tidak sedang mentransformasikan lembaga. Kita sedang menguburnya, dengan disaksikan oleh anak cucu kita sendiri.
Dan orkestra tanpa partitur, betapapun megah gedung konsernya, betapapun banyak Profesor di depannya dan betapapun banyak generasi muda di belakangnya, hanya akan menghasilkan satu hal: kebisingan yang disetujui bersama, dan masa depan yang hilang arah.
Horas. Dari Dolok Pusuk Buhit.
Sianjur Mulamula.
Penulis adalah Pegiat Lingkungan dan Budaya Basis Geopark

