BOGOR, PILAR MERDEKA – Kebudayaan tidak hanya hidup di dalam gedung kesenian, museum, atau buku-buku sejarah. Ia tumbuh di tengah masyarakat, diwariskan melalui cerita, kesenian, adat, bahasa, ritual, pengetahuan tentang alam, serta berbagai kebiasaan yang membentuk cara manusia memandang kehidupan. Karena itu, menjaga kebudayaan sesungguhnya bukan sekadar menjaga benda-benda masa lalu, melainkan menjaga ingatan dan jati diri sebuah masyarakat.
Dalam konteks itulah kiprah Bambang Sumantri bersama Pamong Budaya menarik untuk dilihat. Ia hadir sebagai salah satu pegiat yang berusaha membawa persoalan kebudayaan kembali ke ruang masyarakat. Kebudayaan tidak diperlakukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dirawat, dipahami, didokumentasikan, dan diwariskan.
Dari pelestarian menuju pemajuan kebudayaan
Salah satu persoalan kebudayaan di daerah adalah kecenderungan melihat tradisi hanya sebagai peninggalan masa lalu. Padahal, kebudayaan selalu berada dalam proses perubahan. Tradisi dapat kehilangan makna apabila hanya dipertontonkan tanpa dipahami konteksnya. Sebaliknya, tradisi dapat tetap hidup apabila generasi baru diberi kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkannya.
Di sinilah peran Pamong Budaya menjadi penting.
Bambang Sumantri bersama lingkungan Pamong Budaya Bogor memperlihatkan perhatian pada berbagai persoalan kebudayaan lokal, mulai dari seni tradisi, sejarah, situs budaya, adat, hingga hubungan kebudayaan dengan lingkungan hidup. Perhatian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bogor sesungguhnya memiliki ruang yang sangat luas untuk digali.
Upaya mendokumentasikan kesenian tradisional seperti Babangen, misalnya, dapat dipandang sebagai usaha menyelamatkan pengetahuan kebudayaan dari ancaman keterputusan antargenerasi. Dokumentasi bukan sekadar membuat arsip, tetapi menjadi cara untuk memastikan bahwa sebuah kesenian mempunyai jejak yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Kebudayaan sebagai ingatan kolektif
Bogor bukan hanya wilayah administratif. Ia mempunyai lapisan sejarah dan kebudayaan yang panjang. Di berbagai pelosok Kabupaten Bogor masih terdapat cerita rakyat, situs, kesenian, tradisi, pengetahuan lokal, serta hubungan masyarakat dengan alam yang belum seluruhnya terdokumentasikan.
Dalam konteks tersebut, kerja kebudayaan Bambang Sumantri bersama Pamong Budaya dapat dipahami sebagai usaha merawat ingatan kolektif masyarakat Bogor.
Ketika masyarakat menemukan situs, gua, benda bersejarah, atau tinggalan budaya, yang diperlukan bukan hanya rasa kagum, tetapi juga kesadaran untuk melakukan penelitian, dokumentasi, dan perlindungan. Kebudayaan tidak akan bertahan apabila masyarakat kehilangan rasa memiliki terhadap sejarahnya sendiri.
Karena itu, kerja kebudayaan pada dasarnya juga merupakan kerja pendidikan.
Masyarakat perlu diajak bertanya: Dari mana kita berasal? Nilai apa yang diwariskan leluhur? Apa yang masih relevan bagi kehidupan hari ini? Dan bagaimana warisan tersebut dapat diteruskan kepada anak-anak kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar memperbanyak acara seremonial kebudayaan.
Ketika budaya bertemu dengan alam
Hal menarik lainnya dari kiprah Pamong Budaya adalah adanya perhatian terhadap hubungan antara kebudayaan dan lingkungan.
Dalam banyak tradisi Nusantara, alam tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek yang boleh dieksploitasi. Gunung, sungai, hutan, mata air, tanah, dan pepohonan mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang manusia hidup bersama alam.
Kegiatan seperti babakti atau ruwatan alam, penanaman pohon, dan pelepasan ikan dapat dibaca sebagai bentuk aktualisasi nilai tersebut. Tradisi tidak berhenti sebagai ritual, tetapi diterjemahkan menjadi kesadaran ekologis.
Di titik ini kebudayaan memperoleh makna yang lebih luas: merawat alam adalah bagian dari merawat kebudayaan, karena manusia dan lingkungan merupakan bagian dari satu ekosistem kehidupan.
Mengembalikan kebudayaan kepada masyarakat
Tantangan terbesar gerakan kebudayaan hari ini adalah bagaimana membuat kebudayaan tidak berjarak dari masyarakat, terutama generasi muda.
Anak-anak muda hidup dalam dunia digital dengan arus informasi yang sangat cepat. Mereka mengenal budaya global melalui gawai, tetapi belum tentu mengenal sejarah kampungnya sendiri. Mereka mungkin mengetahui berbagai tokoh dan tren dari luar daerah, tetapi tidak mengetahui siapa seniman, budayawan, atau tokoh masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Karena itu, kebudayaan harus hadir dengan cara yang lebih terbuka.
Dokumentasi digital, film, fotografi, media sosial, diskusi, pertunjukan, pendidikan seni, hingga kegiatan komunitas dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan generasi baru.
Dalam konteks inilah kiprah Bambang Sumantri bersama Pamong Budaya menjadi relevan. Kerja kebudayaan tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah ada. Ia juga perlu mencari cara agar warisan tersebut dapat dipahami dan dimaknai kembali oleh masyarakat hari ini.
Pamong budaya sebagai penjaga sekaligus penggerak
Istilah pamong mempunyai makna yang menarik. Pamong bukan sekadar orang yang mengetahui atau menguasai sesuatu, melainkan seseorang yang mendampingi, membimbing, dan menjaga.
Maka, seorang pamong budaya idealnya bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam perspektif itu, Bambang Sumantri dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan Bogor yang bertumpu pada masyarakat. Seni tradisi perlu diberi ruang. Sejarah lokal perlu diteliti. Situs budaya perlu dijaga. Pengetahuan masyarakat perlu dihargai. Lingkungan perlu dirawat. Dan generasi muda perlu dilibatkan.
Semua itu merupakan pekerjaan panjang yang hasilnya tidak selalu dapat diukur dengan angka atau keberhasilan sebuah acara.
Kerja kebudayaan sering kali bekerja secara perlahan. Ia menanam kesadaran hari ini agar mungkin baru dipanen oleh generasi yang akan datang.
Bogor membutuhkan gerakan kebudayaan yang terus menyala
Bogor memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi kekayaan tersebut sekaligus merupakan tanggung jawab. Jika tidak dirawat, berbagai tradisi dapat hilang bersama para pelakunya. Jika tidak didokumentasikan, pengetahuan lokal dapat terputus. Jika tidak dikenalkan kepada generasi muda, kebudayaan hanya akan menjadi cerita masa lalu.
Karena itu, kerja Pamong Budaya perlu terus didorong menjadi gerakan yang semakin terbuka, kolaboratif, kritis, dan dekat dengan masyarakat.
Kiprah Bambang Sumantri bersama Pamong Budaya pada akhirnya mengingatkan kita bahwa kebudayaan bukan sekadar urusan pertunjukan dan upacara, melainkan urusan keberadaan manusia itu sendiri.
Menjaga budaya berarti menjaga ingatan.
Menjaga ingatan berarti menjaga identitas.
Dan menjaga identitas berarti memberikan pijakan kepada generasi muda untuk menentukan ke mana mereka akan melangkah.
Bogor tidak cukup hanya menjadi daerah yang memiliki banyak warisan budaya. Bogor membutuhkan masyarakat yang sadar budaya, mencintai sejarahnya, menghargai senimannya, menjaga alamnya, dan berani mengembangkan kebudayaannya untuk masa depan.
Di situlah kerja seorang pamong budaya memperoleh maknanya: bukan hanya berdiri di belakang kebudayaan sebagai penjaga masa lalu, tetapi berjalan bersama masyarakat untuk memastikan kebudayaan tetap hidup di masa depan. (Heri Cokro)

