BerandaOpiniTangiang Borhat-borhat: Berangkat dari Jabu, Membawa Doa, Mengingat Jalan Pulang

Tangiang Borhat-borhat: Berangkat dari Jabu, Membawa Doa, Mengingat Jalan Pulang

Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang, Pegiat Lingkungan dan Budaya Bermukim di lereng Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir

Dalam kebudayaan Batak Toba, keberangkatan bukan sekadar meninggalkan suatu tempat. Di dalamnya terdapat doa, restu, tanggung jawab, dan harapan. Karena itu, Tangiang Borhat-borhat tidak tepat dipahami hanya sebagai acara pelepasan. Ia merupakan ungkapan kebudayaan tentang bagaimana seseorang berangkat memasuki kehidupan atau tanggung jawab yang baru.

Tangiang berarti doa, sedangkan borhat berarti berangkat. Pengulangan borhat menegaskan suatu keberangkatan yang mendapat perhatian keluarga dan diiringi doa. Pesannya sederhana, tetapi dalam: seseorang boleh pergi jauh, tetapi jangan kehilangan asal dan jangan lupa jalan untuk mulak.

Karena itu, jabu memiliki kedudukan penting. Dalam pemaknaan adat yang menempatkan keluarga sebagai sumber doa dan restu, Tangiang Borhat-borhat seyogianya berlangsung di jabu orang tua yang memberangkatkan seseorang atau di jabu pihak yang memberikan doa dan restu. Jabu bukan sekadar bangunan atau alamat tempat berlangsungnya acara. Ia adalah ruang kehidupan keluarga, tempat seseorang mengenal asal-usul, menerima nasihat, dan memperoleh penguatan sebelum melangkah.

Dalam tata jabu tradisional, tungku menjadi pusat kehidupan rumah tangga. Api yang dijaga di tungku dapat dibaca sebagai simbol kehidupan yang terus dipelihara. Karena itu, keberangkatan dari jabu mengandung pesan bahwa seseorang boleh meninggalkan rumah, tetapi tidak seharusnya tercerabut dari nilai yang membentuk dirinya.

Makna Tangiang Borhat-borhat dapat dibaca dalam berbagai keberangkatan kehidupan masa kini: pangarattoan untuk merantau, parsiajaran untuk menuntut ilmu, parhobasan karena pekerjaan atau tugas, parsaripeon ketika memasuki rumah tangga baru, pelayanan, dan panguluan ketika menerima tanggung jawab kepemimpinan dalam lembaga atau perkumpulan marga.

Khusus dalam kepemimpinan, borhat memiliki makna yang lebih luas. Seseorang yang menerima tanggung jawab bukan hanya memperoleh jabatan, tetapi berangkat dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama. Karena itu, borhat dapat direnungkan sebagai keberangkatan sahala dan tohonan: wibawa sekaligus tanggung jawab.

BACA JUGA  Menulis Lappet Berarti Menjaga Peradaban Vulkanik Toba

Di dalamnya hidup relasi Dalihan Na Tolu: somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Keberangkatan seseorang menjadi peristiwa yang melibatkan hubungan kekerabatan, bukan urusan pribadi semata. Doa dan pasu-pasu menguatkan ikatan tersebut.

Bekal keberangkatan juga memiliki bahasa adat. Ulos, dalam konteks pemberangkatan yang dibingkai oleh relasi Dalihan Na Tolu, diberikan oleh pihak yang mempunyai kedudukan sebagai hula-hula kepada pihak yang diberangkatkan, sebagai tanda kasih, doa, penguatan, dan pasu-pasu. Maknanya bukan semata-mata pada kain yang diselimutkan, melainkan pada relasi kekerabatan dan doa yang menyertainya.

Demikian pula boras sipir ni tondi dapat dibaca sebagai bagian dari ungkapan doa dan penguatan bagi orang yang berangkat. Ia mengingatkan bahwa keberangkatan tidak hanya membutuhkan bekal lahiriah, tetapi juga keteguhan tondi. Bentuk dan pelaksanaannya dapat mengikuti konteks adat yang berlangsung. Karena itu, maknanya perlu dipahami bersama dengan hubungan kekerabatan dan tata acara yang menyertainya.

Dengan demikian, ulos dan boras sipir ni tondi bukan sekadar perlengkapan upacara. Keduanya menjadi bagian dari bahasa adat yang menyertai seseorang ketika borhat: ada doa, ada pasu-pasu, ada tanggung jawab, dan ada ikatan kekerabatan yang tetap dibawa meskipun seseorang meninggalkan rumah.

Dalam terang iman, makna itu menemukan kedalaman. Ishak memberkati Yakub sebelum keberangkatannya (Kejadian 28:1). Mazmur 121:8 mengingatkan bahwa Tuhan menjaga kepergian dan kedatangan manusia. Dengan demikian, adat dan iman dapat bertemu dalam kesadaran bahwa manusia melangkah dengan ikhtiar, tetapi berharap pada penyertaan Tuhan.

Pada akhirnya, Tangiang Borhat-borhat bukan terutama tentang seberapa jauh seseorang pergi. Ia tentang dari mana ia berangkat, doa apa yang dibawanya, tanggung jawab apa yang dipikulnya, dan apakah ia masih mengingat jalan untuk pulang.

BACA JUGA  Kaos Putih Milik Sang Caleg

Lao ma ho, unang lupa marTuhan, unang lupa maradat. Ingot mulak.

Sebab itu, jabu dan tungku tidak boleh kehilangan maknanya. Dari sanalah seseorang berangkat. Kepadanyalah ingatan tentang asal-usul ditambatkan.

Borhat ma ho. Debata ma bahen donganmu.

Horas. Mauliate.

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH