BerandaOlahragaReal Madrid Panas! Mbappe Ungkap Alasan di Balik Kontroversi Kaus Ceuta

Real Madrid Panas! Mbappe Ungkap Alasan di Balik Kontroversi Kaus Ceuta

PILAR MERDEKA— Kylian Mbappe akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi kaus solidaritas Ceuta yang membuat namanya bersama dua pemain Real Madrid lainnya menjadi sorotan di Spanyol.

Mbappe, Vinicius Jr, dan Ibrahima Konate sebelumnya terlihat melipat kaus pra-pertandingan yang dikenakan para pemain Real Madrid. Kaus tersebut memuat pesan “We are all Caballas”, sebuah bentuk solidaritas untuk masyarakat Ceuta yang tengah menghadapi krisis migran.

Sikap ketiganya muncul sebelum pertandingan Real Madrid menghadapi Elche pada Selasa malam. Sementara sebagian besar pemain lain mengenakan kaus tersebut sebagaimana diminta.

Pemandangan itu kemudian memicu perdebatan. Sebagian pendukung mempertanyakan keputusan tiga pemain tersebut karena dianggap tidak mengikuti permintaan klub.

Namun, Mbappe kini memberikan penjelasan langsung mengenai keputusannya.

Dalam wawancara dengan AS, penyerang asal Prancis itu menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki persoalan dengan masyarakat Ceuta. Justru sebaliknya, ia menyatakan dukungan penuh kepada mereka.

“Saya ingin menjelaskan hal ini dengan jelas agar orang-orang mengerti. Keputusan untuk menyertakan kaus tersebut dan meminta kami mengenakannya adalah keputusan klub. Kami sebagai pemain harus mengenakannya,” ujar Mbappe.

Ia kemudian menyampaikan pesan yang menjadi alasan di balik sikapnya.

“Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah saya sepenuhnya bersolidaritas dengan Ceuta dan semua korbannya. Karena sebelum menjadi pemain, saya adalah seorang manusia,” katanya.

Screenshot 2026 09 18 002914
Foto: Instagram k.mbappe

Mbappe mengatakan dirinya juga ingin memberikan perhatian kepada para imigran yang kehilangan nyawa maupun mereka yang masih hidup dalam kondisi sulit.

“Namun, saya juga ingin menunjukkan sikap dan memberikan perhatian kepada semua imigran yang telah kehilangan nyawa serta mereka yang hidup dalam kondisi yang sangat berat,” ujarnya.

Ia sadar pilihannya dapat menimbulkan kesalahpahaman.

BACA JUGA  Santunan Tahun Ini Prioritaskan Jompo

Menurut Mbappe, orang bisa saja mengira dirinya menentang masyarakat Ceuta karena tidak menampilkan pesan solidaritas tersebut. Padahal, ia menegaskan hal itu bukan maksudnya.

“Posisi yang saya ambil tidaklah mudah; situasinya sulit karena pada akhirnya, orang mungkin berpikir saya menentang penduduk Ceuta, padahal sama sekali tidak,” kata Mbappe.

“Saya tidak memiliki masalah apa pun dengan mereka, dan saya mendukung mereka 100 persen dalam pikiran saya.”

Mbappe kemudian menjelaskan bahwa kepeduliannya tidak ingin dibatasi hanya pada satu kelompok yang terdampak.

“Namun, saya juga ingin memberikan perhatian kepada semua orang yang sedang menderita, karena bagaimanapun juga, saya manusia, dan saya tidak ingin menganggap satu bentuk penderitaan lebih penting daripada yang lain,” lanjutnya.

Ia mengaku terpukul melihat penderitaan manusia yang terjadi di berbagai belahan dunia.

“Ada orang-orang yang menderita, dan hati saya hancur melihat hal itu terjadi di dunia ini. Saya adalah seorang pemuda yang menginginkan yang terbaik bagi dunia tempat kita tinggal,” tuturnya.

“Saya ingin menyampaikan pesan positif dan perdamaian, serta berharap situasi ini segera teratasi,” sambung Mbappe.

Krisis Migran Ceuta

Kontroversi kaus Real Madrid tersebut muncul ketika Ceuta sedang menghadapi persoalan migrasi yang serius.

Pada 30 dan 31 Juli, sekitar 80.000 migran dilaporkan tiba di wilayah tersebut. Sebagian besar merupakan pria muda asal Maroko.

Sedikitnya 57 orang meninggal dunia dalam upaya perjalanan tersebut.

Ceuta sendiri merupakan wilayah Spanyol yang berada di Afrika Utara. Persoalan kedaulatannya telah lama menjadi isu antara Spanyol dan Maroko. Maroko telah mempersoalkan kedaulatan Spanyol atas Ceuta sejak memperoleh kemerdekaan pada 1956.

Presiden Ceuta mengatakan sekitar 13.000 migran masih berada di wilayah tersebut.

BACA JUGA  Listrik Padam Jalan Letda Sujono Gelap Gulita

Situasi itu membuat persoalan migrasi menjadi isu politik yang sangat sensitif di Spanyol. Bahkan, perdebatan tersebut kini ikut menyeret sejumlah klub dan pemain sepak bola.

Screenshot 2026 09 18 002836
Foto: Instagram k.mbappe

Tiga Pemain Real Madrid Dikritik

Keputusan Mbappe, Vinicius Jr, dan Konate melipat kaus solidaritas tersebut membuat sejumlah pendukung Real Madrid melontarkan kritik keras.

Salah seorang pendukung menulis harapan agar ketiganya terus mendapat cemoohan sampai meninggalkan Real Madrid.

Pendukung lainnya bahkan meminta Florentino memberikan sanksi berupa skorsing selama tiga bulan tanpa pekerjaan maupun bayaran.

Kritik lain diarahkan kepada klub. Seorang pendukung menilai tindakan tersebut sebagai sikap merendahkan masyarakat Ceuta dan menyoroti kehidupan mewah para pemain yang tinggal di kawasan elite dengan pengamanan pribadi.

Namun, Real Madrid kemudian memberikan penjelasan mengenai keputusan ketiga pemain tersebut.

Seorang pejabat klub mengatakan Real Madrid menerima permintaan Elche untuk menunjukkan solidaritas melalui penggunaan kaus tersebut.

Meski demikian, klub juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat tetap dihormati. Setiap pemain memiliki kebebasan untuk menentukan apakah akan mengenakan kaus itu atau tidak.

Artinya, menurut penjelasan klub, keputusan para pemain untuk tidak menampilkan pesan pada kaus tersebut tetap berada dalam ruang kebebasan yang diberikan kepada mereka.

Ez Abde Ikut Terseret

Kontroversi tidak berhenti di Real Madrid.

Ez Abde, pemain asal Maroko yang memperkuat Real Betis di Sevilla, juga mengenakan kaus solidaritas tersebut menjelang pertandingan menghadapi Villarreal.

Keputusan itu membuat Abde menerima rentetan kecaman secara daring dari sesama warga negaranya.

Di sisi lain, Barcelona mengambil keputusan berbeda. Klub Catalunya tersebut memilih untuk tidak mengenakan kaus solidaritas itu dalam pertandingan LaLiga mereka.

Pemerintah Spanyol Siapkan Akomodasi

Persoalan Ceuta sendiri masih menjadi perhatian besar pemerintah Spanyol.

BACA JUGA  Taman Cadika: Ketika Keringat, Harapan, dan Lensa Zailani Bertemu

Spanyol tengah menyiapkan akomodasi bagi hingga 10.000 migran di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan bahwa situasi yang terjadi bukan karena pemerintah salah menangani persoalan migrasi.

“Yang terjadi adalah kami tidak mampu mengatasi lonjakan kedatangan tersebut,” ujar Sánchez pekan ini.

Sánchez mengatakan pemerintah telah menampung para migran sebelum sebagian besar dari mereka dikembalikan ke Maroko.

Ia menyebut sembilan dari sepuluh orang telah kembali.

Pemerintah Spanyol juga menargetkan akomodasi untuk 6.000 orang tersedia pada akhir pekan. Kapasitas tersebut nantinya akan diperluas hingga mencapai 10.000 orang.

Sánchez berharap situasi Ceuta dapat terkendali pada akhir tahun. Ia sekaligus meminta masyarakat di wilayah tersebut untuk bersabar.

Ceuta memiliki populasi sekitar 84.000 jiwa.

Di tengah persoalan migrasi yang belum sepenuhnya selesai, pesan “We are all Caballas” akhirnya menjadi lebih dari sekadar tulisan di kaus sepak bola. Sikap Mbappe dan dua rekan setimnya membuat isu kemanusiaan tersebut ikut menjadi perdebatan di ruang publik Spanyol.

Mbappe sendiri telah menyampaikan posisinya: ia mengatakan mendukung masyarakat Ceuta, sekaligus ingin perhatian terhadap penderitaan juga diberikan kepada para migran yang kehilangan nyawa dan mereka yang masih menghadapi kondisi berat. (Sumber: Daily Mail/di)

 

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH