BerandaKolomGaya hidup Work-life Balance di Negeri Kangguru

Gaya hidup Work-life Balance di Negeri Kangguru

Oleh dr. Cut Putri Indira
Australia adalah negara maju yang letaknya berbatasan langsung dengan Indonesia. Meski begitu, populasinya jauh lebih kecil. Data 2024 mencatat penduduk Australia hanya 27,4 juta jiwa. Bandingkan dengan Jawa Barat saja yang sudah 51 juta jiwa.

Meski populasi kecil, Australia yang dijuluki Negeri Kangguru ini terkenal dengan budaya _work-life balance_ yang kuat. Gaya hidup ini jadi salah satu hal yang menarik perhatian saya. Apalagi ketika saya dan suami mendapat kesempatan berkunjung ke Southern Cross University, Queensland, pada 14–24 April 2026. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari MoU yang sebelumnya ditandatangani pimpinan Universitas Teuku Umar (UTU).

Sebagai dokter, saya melihat banyak hal positif dari gaya hidup masyarakat Australia yang bisa dipelajari. Mulai dari pola kerja, pola makan, hingga cara mereka menjaga kesehatan sehari-hari. Saya ingin membagikannya dalam tulisan ini, semoga bisa menambah literasi kesehatan dan membantu mencegah penyakit di tengah masyarakat kita.

Hal pertama yang bikin saya kagum adalah kecintaan warga Australia pada aktivitas luar ruang. Dari anak kecil sampai lansia, dari ibu hamil sampai penyandang disabilitas, semuanya aktif di alam. Berenang, surfing, jalan kaki, lari, bersepeda, hampir semua olahraga yang berhubungan dengan alam jadi bagian dari rutinitas mereka.

Kangguru
Ucapan apresiasi via sosial media dari kampus Southern Cross University Australia mengenai kegiatan yang dilakukan di Australia. (Foto. Istimewa)

Saya bahkan melihat ibu-ibu mendorong kereta bayi sambil jalan santai di tepi Pantai Gold Coast. Pemandangan sederhana ini menjelaskan banyak hal. Gaya hidup yang aktif sejak usia dini membuat masyarakat di sini lebih fit dan punya angka harapan hidup yang tinggi.

Hal ini didukung oleh pemerintah setempat dengan menyediakan fasilitas track jogging, tempat sampah, toilet umum, tempat beristirahat/tempat duduk yang tersedia diberbagai sudut kota.

BACA JUGA  Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi Jarak Jauh di Kaki Bukit Barisan

Masyarakat tidak perlu membayar dalam menggunakan fasilitas umum atau memasuki tempat wisata umum seperti pantai dan laut. Saya juga melihat kesadaran dan juga budaya masyarakat disana yang ikut merawat fasilitas umum.

Selain itu, Area wisata terutama disepanjang Pantai Gold Coast, Brisbane tersebut juga didukung parkiran gratis. semua fasilitas itu dapat digunakan secara umum tanpa di pungut biaya. Rasa keamanan juga diberikan oleh pemerintah setempat dengan menyediakan lifeguard/penjaga pantai untuk mengawasi kegiatan olahraga di pinggir pantai maupun di laut.

Dari segi kesehatan dan berbagai penelitian aktifitas olahraga di bawah sinar matahari pagi merupakan sumber utama vitamin D alami yang berperan sebagai zat yang memperbaiki sistem imun tubuh, kesehatan tulang dan juga dapat mengurangi Anxiety/kecemasan karena olahraga dapat melepaskan hormon stress dan meningkatkan suasana hati.

Kangguru
dr. Cut Putri Indira (tengah) bersama alumni staf kampus Southern Cross University di Gold Coast. (Foto. Istimewa)

Masyarakat Australia juga mengkonsumsi makanan dan minuman yang rendah gula dan garam ini terlihat dari sarapan pagi yang di sediakan di setiap menu café dan tempat makan, konsumsi juice alami tanpa tambahan gula, konsumsi kopi tanpa gula. Makanan roti yang diimbangi protein seperti telur, tuna , salmon dengan sayuran. Dan konsumsi susu alami, yogurt yang tinggi kalsium.

Selain faktor tersebut, kualitas udara dan air di Australia yang terkelola dengan baik, langit biru, air yang dapat dikonsumsi dipinggir jalan tersedia kran air minum bagi orang umum yang sedang berjalan atau berolahraga.

Budaya kerja di Australia mengutamakan _work-life balance_. Sistemnya memang dirancang untuk menjaga kesejahteraan pekerja, bukan cuma mengejar target. Suasananya santai tapi tetap profesional. Jam kerja normal hanya 38 jam per minggu, dan lembur berlebihan bukan sesuatu yang dibanggakan. Di sini, waktu untuk keluarga dan istirahat jauh lebih dihargai.

BACA JUGA  Membangun Budaya Baru: Sekolah tanpa Motor di Jawa Barat

Upah minimum di Australia juga termasuk yang tertinggi di dunia, sekitar AUD 23–28 per jam atau Rp276.000–336.000 per jam pada 2025. Gaji yang layak ini membuat tekanan finansial berkurang, sehingga pekerja bisa lebih fokus dan tenang. Lingkungan kerjanya pun kasual dan egaliter. Komunikasi dengan atasan lebih terbuka, tanpa sekat kaku yang bikin canggung.

Faktor ini yang membuat angka harapan hidup di Australia tinggi. Menurut Biro Statistik Australia (ABS), harapan hidup laki-laki mencapai 81,1 tahun dan perempuan 85,1 tahun. Angka ini bukan kebetulan. Gaya hidup aktif, gizi seimbang, dan keseimbangan kerja yang dijaga jadi kuncinya.

Hal ini bisa jadi contoh untuk kita di Aceh. Dengan alam yang indah, membudayakan olahraga di luar ruang bukan cuma menyehatkan warga, tapi juga bisa jadi daya tarik wisata. Selain itu, olahraga outdoor terbukti membantu melawan diabetes, penyakit jantung, stres, dan penyakit lain yang muncul akibat pola hidup tidak seimbang—mulai dari kerja berlebihan, pola makan buruk, minim olahraga, sampai kurangnya waktu untuk aspek spiritual.

Penulis adalah Dokter Umum di Puskesmas Padang Panyang, Kabupaten Nagan Raya. 

IMG 20260515 WA0006 1

 

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH