DELI SERDANG, PILAR MERDEKA – Ikan asin Pantai Labu bukan sekadar lauk sederhana. Di balik rasanya yang gurih, tersimpan kerja keras nelayan dan pedagang kecil yang bertahan hidup dari laut. Salah satunya adalah Mansyurman, pedagang ikan asin yang setia menjaga kualitas olahan tradisional di pesisir Deli Serdang.
Ikan asin adalah hasil pengolahan daging ikan yang diawetkan dengan garam agar tidak cepat membusuk. Meski diasinkan, kandungan nutrisi ikan masih tetap ada dan aman dikonsumsi selama diolah secara baik dan tidak dicampur bahan kimia berbahaya seperti pengawet atau pewarna.
Proses pengolahan ikan asin dilakukan dengan cara berbeda, tergantung jenis ikan. Ada ikan yang direbus lebih dulu lalu diberi garam. Ada juga yang cukup direndam garam semalaman sebelum dijemur di bawah sinar matahari hingga kering.
Ikan teri dari keluarga Engraulidae menjadi jenis yang paling dikenal. Sejak lama, ikan teri memang diasinkan sebelum dipasarkan. Dari sinilah lahir nama Ikan Teri Nasi dan Ikan Teri Medan yang hingga kini menjadi primadona oleh-oleh khas Kota Medan.

Mansyurman (60), warga Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, telah menekuni usaha ikan asin selama delapan tahun. Rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari Tempat Pelelangan Ikan Pantai Labu. Lokasi itu memberinya peluang besar untuk menampung ikan asin dari nelayan sekitar.
“Saya beli dari pembuatan ikan asin di sekitar sini, selanjutnya saya jual di Pajak Pasar 3 Jalan Datuk Kabu. Ada juga yang datang mengantarnya langsung,” ujar Mansyurman saat berbincang dengan awak media ini pada Senin, (29/12) lalu.
Di tengah kesibukan itu, istrinya turut berjuang dengan membuka warung kopi. Warung kecil tersebut menjadi tempat singgah nelayan, agen ikan, hingga pengunjung pantai yang ingin membeli oleh-oleh ikan laut dan seafood khas pesisir Pantai Labu.
Penjualan ikan asin, menurut Mansyurman, tidak mengenal musim. Berbeda dengan daging yang laris saat hari raya, ikan asin selalu dicari setiap waktu dengan harga yang relatif stabil.
“Ikan asin ini hampir tidak ada masanya,” ungkapnya singkat namun penuh makna.
Ia menegaskan bahwa ikan asin Pantai Labu adalah hasil olahan murni warga setempat. Untuk jenis tertentu, ikan direbus langsung di kapal, lalu setibanya di darat dijemur hingga kering.
“Pokoknya ikan asin Pantai Labu rasanya enak,” katanya sambil tersenyum, seolah menitipkan harapan agar usaha kecil ini terus hidup dan dikenal lebih luas.
Di pesisir Pantai Labu, ikan asin bukan hanya soal rasa, melainkan simbol ketekunan, kejujuran, dan perjuangan keluarga nelayan dalam menjaga dapur tetap mengepul dari hasil laut. (BS)

