MEDAN, PILAR MERDEKA – Rujak Simpang Jodoh bukan sekadar jajanan, melainkan potongan sejarah, rasa, dan kenangan yang hidup di pinggir jalan. Di persimpangan Jalan Besar Desa Tembung dan Jalan Pasar VII, rujak menjadi denyut harian masyarakat. Lokasi ini dikenal luas dengan nama Simpang Jodoh.
Bahkan, menurut warga Medan Tembung, Fajaruddin, Rujak Simpang Jodoh sudah ada sekitar 60 tahun. Warisan kuliner ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, menjadi tempat berkumpul dan menikmati hidangan rujak yang lezat.
Rujak merupakan jajanan tradisional Indonesia yang digemari banyak kalangan, terutama perempuan. Sajian ini terbuat dari potongan aneka buah segar seperti jambu air, bengkuang, jambu klutok, nenas, mangga, kedondong, dan pepaya. Semua disatukan oleh bumbu khas yang menggoda selera.
Menurut Wikipedia, istilah rujak berasal dari kata Jawa Kuno rurujak atau angrujak, yang berarti memotong sesuatu menjadi bagian kecil. Makanan ini telah dikenal sejak abad ke-10 Masehi dan tercatat dalam Prasasti Taji di Jawa Tengah. Fakta ini menegaskan bahwa rujak bukan makanan biasa, melainkan warisan budaya.

Bumbu rujak dibuat dari campuran gula aren, cabai rawit, kacang tanah goreng, garam, dan air asam jawa. Perpaduan ini menciptakan rasa manis, asam, dan pedas yang seimbang. Sensasi segar langsung terasa sejak suapan pertama.
Minggu sore, (13/12), suasana Simpang Jodoh tampak ramai, ada sekitar 20 pedagang Rujak berjejer. Di sisi kanan jalan jika datang dari Jalan Besar Desa Tembung, berdiri lapak Rujak Bu Regar, pedagang rujak yang telah menjadi langganan banyak orang. Lapaknya sederhana.
Satu stealing dipenuhi buah-buah segar. Dua kursi kecil disediakan untuk pembeli yang menunggu pesanan. Di bagian dalam stealing, alat untuk mengulek bumbu telah siap digunakan. Semua tertata rapi dan bersih.
“Bang, buahnya mau dipilih sendiri atau aneka buah, Bang?” sapa Bu Regar dengan ramah kepada seorang pembeli.
“Pilih sendiri saja, Bu Regar. Jambu air, bengkuang, dan jambu klutok,” jawab pembeli itu.
Dengan cekatan, Bu Regar memilih buah satu per satu. Tangannya terampil memotong, seakan sudah menyatu dengan pekerjaan ini. Setiap potongan buah menunjukkan ketelatenan dan pengalaman bertahun-tahun.
Bu Regar menjelaskan harga dengan jujur. Rujak buah lengkap dibanderol Rp20 ribu, berisi nenas, mangga, bengkuang, jambu klutok, kedondong, pepaya, dan belimbing. Namun untuk pilihan buah tertentu, harga menyesuaikan. Rujak jambu air saja Rp35 ribu, sedangkan kombinasi jambu air, bengkuang, dan jambu klutok seharga Rp25 ribu.
“Harga bahan sekarang mahal,” ujar Bu Regar. Ia menyebutkan harga kacang tanah mencapai Rp50 ribu per kilogram. Cabai rawit seperempat kilogram Rp20 ribu. Kenaikan harga bahan membuat biaya bumbu ikut meningkat.
Seorang pembeli bernama Nur mengaku puas dengan rasa rujak Bu Regar. Menurutnya, bumbu rujak terasa sedap dan menyatu sempurna. Rasa asam, manis, dan pedas hadir seimbang dan segar saat dimakan. “Enak sekali. Rasanya padu. Sipp,” ujar Nur.
Di Simpang Jodoh, Rujak Bu Regar menyediakan berbagai pilihan. Mulai dari rujak ulek porsi biasa, porsi jumbo, rujak kemasan, rujak bebeg atau tumbok, hingga bumbu rujak siap pakai. Semua disajikan dengan rasa yang konsisten.
Menariknya, seluruh pedagang rujak di Simpang Jodoh adalah perempuan. Mereka berdiri setiap hari, menjaga rasa, tradisi, dan penghidupan dari balik lapak sederhana.
Rujak Simpang Jodoh bukan hanya tentang buah dan bumbu. Tapi cerita tentang ketekunan, tradisi yang bertahan puluhan tahun, dan rasa yang mampu mengaduk emosi siapa saja yang mencicipinya. (Monang Sitohang)

