DELI SERDANG, PILAR MERDEKA – Dalam dunia intelijen, kalau tidak salah ada ungkapan,”Mati tak diakui, sukses tak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tak dicari”. Namun tulisan ini bukan cerita dunia intelijen, tetapi sekedar cerita seberkas profesi pengatur lalu lintas yang bukan dari Korp Satuan Polisi Lalu Lintas, melainkan “pak ogah atau polisi cepek”.
Di kala terik matahari “memanggang” tubuh, dan terkadang hujan mengguyur, tak menjadi penghalang bagi Mhd. Heri Ramdani (50) membantu warga masyarakat yang melintas di persimpangan Jalan. Medan-Batang Kuis dengan Jalan. Sidomulyo Pasar 9- Jalan. Mesjid. Terlihat, ia mengatur lalu lintas dengan tangkas yang bertujuan agar arus kendaraan lancar.
Orang menyebutnya “pak Ogah”, diambil dari sebuah tokoh kartun dalam serial Si Unyil yang pernah ditayang setiap hari Minggu di TVRI tahun 80-an. Ada juga yang menyebutnya “Polisi Cepek”. Sebutan “Cepek” dari bahasa Hokkien yang bermakna “seratus”.
Di awal munculnya, nilai mata uang seratus rupiah sudah sangat berarti, sudah dapat membeli Mie Rebus yang membuat perut kenyang, Mie Lidi/Mie Kuning yang disiram kuah atau bumbu pecal.
Untuk profesi “pak Ogah” sendiri ada semacam adagium juga, tak berkecil hati jika tak diberi, niat hati mengurai tapi malah di-bully, bersabar diri meski bukan keinginan hati, pulang ke rumah kadang tak ada rezeki.
Sejak awal 2023 Heri alias Tembong menekuni profesi sebagai pengatur lalu lintas pengganti pak polisi. “Saya tak memaksa agar pengendara memberi kepada saya, namun ada juga yang memberi Rp.200,- pernah Rp.400,- lalu uangnya saya simpan di toples kalau sudah penuh saya tukarkan ke Indomaret, kadang dapat Rp.60.000,-” ujarnya saat mengawali bincang-bincang di siang hari panasnya menyengat, Kamis,(26/6).
Saat disinggung apakah pernah tak dapat uang? “Ya palingan hanya Rp.25.000, pak, itulah rezeki saya. Tapi paling besarnya Rp.150.000,” ungkap Tembong.
Motivasi untuk menjadi Relawan adalah berbuat kebajikan kalaupun ada yang memberi ya disyukuri. “Waktu itu, ada juga yang mengajak saya kerja bangunan di Aceh, ya saya ikut. Tapi saat saya tanya-tanya dan minta kerjaan lebih banyak yang menolaknya, bukan saya tak mau kerja dan pemalas pak,” ungkap pria paruh baya yang kurus dan berkulit hitam ini.
Tipikal pengemudi di negeri +62 memang agak lain dengan budaya di banyak belahan dunia yang lainnya dalam hal tertib berlalu lintas. Hal inilah yang menjadi celah sekedar bertahan hidup dari pada berbuat tindak kriminal.
Pertukaran Tugas Relawan
Di banyak tempat seringkali kita saksikan meski tak meminta lewat kata-kata dan ucapan tapi ada kesan gestur perilaku dan tingkah laku “Engkau harus memberi”, dengan cara mengikuti proses mobil saat memotong jalan hendak menyeberang atau memutar.
Namun hal ini tak ada dijumpai di persimpangan Jalan Medan – Batang Kuis – Jalan Sidomulyo – Jalan Mesjid. Ada peraturan yang seolah menjadi kesepakatan bersama, bila belum ada rezeki masih bertahan namun jika ada sedikit rezeki maka bergantian. Mulai selepas Adzan Subuh hingga menjelang Selesai Dzuhur selanjutnya menjelang sore hingga menjelang Sholat Isya. “Ya kalau belum ada rezeki, saya pulang ke rumah lagi,” ujar kakek dari 3 orang cucu ini.
Sebuah pola kehidupan bekerja di sektor informal yang kadangkala tanpa kita sadari memberi manfaat bagi banyak orang. Masih banyak Tembong-Tembong yang lain yang bekerja mengharap rezeki tanpa pamrih yang diberikan lewat tangan-tangan orang yang bermurah hati. (Budi Sudarman)

