MEDAN, PILAR MERDEKA – Penataan UMKM CFD Medan menjadi babak baru bagi ratusan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan Car Free Day (CFD). Harapan itu menguat saat Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima audiensi Paguyuban UMKM CFD Medan (UCM) di Balai Kota Medan, Rabu (14/1).
Dalam pertemuan tersebut, Rico Waas menegaskan bahwa penataan UMKM CFD Medan tidak hanya soal izin berjualan. Pemerintah Kota Medan ingin menciptakan ruang publik yang tertib, nyaman, dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat serta pelaku usaha kecil.
Rico Waas mengapresiasi lahirnya Paguyuban UMKM CFD Medan yang tumbuh dari inisiatif para pedagang sendiri. Menurutnya, paguyuban yang terbentuk dari akar rumput memiliki kekuatan solidaritas yang lebih jujur dan alami.
“Paguyuban seperti ini biasanya lebih kuat dan naluriah. Kerjanya jelas, tugas pokoknya juga sudah terbentuk,” ujar Rico Waas.
Data Pemko Medan mencatat terdapat 648 UMKM yang terdaftar di kawasan CFD. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 UMKM aktif berjualan setiap pekan. Angka ini menunjukkan besarnya denyut ekonomi rakyat yang hidup di ruang publik tersebut.
Rico Waas menargetkan CFD Medan berkembang menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner. Untuk mewujudkan hal itu, ia mendorong klasifikasi UMKM berdasarkan jenis usaha, mulai dari makanan asin, makanan manis, menu sarapan, hingga minuman.
Zonasi yang tertata diyakini akan memudahkan pengunjung sekaligus menciptakan suasana yang lebih rapi dan nyaman. “Kalau zonasinya rapi, pengunjung lebih mudah mencari apa yang mereka butuhkan dan suasana jadi lebih tertib,” kata Rico Waas.
Tak hanya soal lokasi berjualan, Rico Waas juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas produk. Ia menekankan edukasi labelisasi dan branding agar UMKM CFD Medan mampu bersaing dan memiliki identitas yang kuat.
“Tampilan pengemasan hingga identitas produk perlu ditingkatkan agar dapat naik kelas,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Rico Waas juga menginstruksikan Satpol PP untuk melakukan pengawasan ketat. Penjualan di seputaran Lapangan Merdeka Medan tidak lagi diperbolehkan demi menjaga fungsi ruang publik dan ketertiban kota.
Ketua Paguyuban UCM, Nico Andreas, menyambut baik arahan Wali Kota Medan. Ia mengungkapkan bahwa selama satu tahun terakhir, para pedagang telah menunjukkan sikap kooperatif dengan berpindah ke lokasi alternatif seperti kawasan Perniagaan, Gwang Ju, dan Kumango.
Bagi Nico, kebijakan ini bukan sekadar penataan, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup banyak keluarga. Sekitar 50 persen anggota UCM menggantungkan hidup sepenuhnya dari aktivitas CFD setiap pekan.
“Kami sangat berharap dukungan penuh dari Pemko Medan agar UMKM di Medan bisa benar-benar naik kelas,” pungkas Nico dengan nada penuh harap.
Penataan UMKM CFD Medan kini menjadi simbol perjuangan ekonomi rakyat kecil. Di balik lapak sederhana, ada mimpi, kerja keras, dan harapan akan masa depan yang lebih layak. (Mons)

