MEDAN, PILAR MERDEKA – Marpangir jelang Ramadan selalu menjadi momen yang menggetarkan hati masyarakat Sumatera Utara (Sumut) . Tradisi mandi panggir ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi simbol membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Bulan suci Ramadan memang selalu dinanti umat Islam, termasuk di Indonesia. Di berbagai daerah, tradisi menyambut puasa masih terus dijaga. Di Sumatera Utara, selain Punggahan atau Munggahan, masyarakat mengenal Marpangir atau mandi panggir yang dilakukan satu hari sebelum Ramadan tiba.
Marpangir jelang Ramadan membuat suasana pasar dan pinggir jalan berubah ramai dua hingga satu hari sebelum puasa. Penjual panggir mulai terlihat di pasar/pajak, hingga di tepi jalan. Seperti di Jalan Letda Sujono, Pajak Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Pasar VIII, dan Pajak Gambir.
Di Pajak Desa Bandar Klippa, pedagang berjalan kaki membawa keranjang berisi sejumlah ikatan kecil panggir. Mereka menawarkan dagangannya kepada pengunjung pasar.
“Bu, Pak, panggirnya, satu ikat Rp1.000 saja,” ucap seorang pedagang. Ada juga yang menawarkan empat ikat Rp5.000.
Di Jalan Letda Sujono, Medan Tembung, seorang pria separuh baya bernama Bahtiar berjualan menggunakan meja kecil di bawah pohon besar sebelum titi sewa. Di atas mejanya tersusun belasan paket panggir yang telah dikemas rapi. Setiap kemasan berisi tiga ikat kecil dan dijual Rp5.000.
Bahtiar mengaku setiap tahun selalu menjual panggir menjelang Ramadan.
“Iya, mandi panggir atau Marpangir sudah tradisi bagi masyarakat kita di Sumatera Utara. Saya jual satu kemasan atau satu gulung panggir harganya Rp5.000,” ujar Bahtiar, Rabu (18/2).
Ia menjelaskan, isi kemasan panggir terdiri dari batang embelu, serai wangi, daun nilam, daun jeruk purut, daun pandan, dan daun pinang. Semua bahan diracik lalu dikemas menjadi tiga ikat kecil dalam satu paket.
“Saya beli bahan-bahan racikannya, kemudian dikemas dalam satu kemasan yang terdiri dari tiga ikat panggir kecil,” jelasnya sambil berjualan ditemani anak perempuannya.
Marpangir jelang Ramadan bagi masyarakat bukan hanya mandi biasa. Tradisi ini dimaknai sebagai proses membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci.
Nurhayati (71), warga Medan Tembung, mengaku rutin melakukan mandi panggir setiap tahun.
“Saya setiap tahun sehari sebelum bulan Ramadan mandi panggir. Panggir yang sudah saya beli sesuai kebutuhan di rumah lalu saya rebus. Setelah mendidih, dicampur air dingin supaya hangat, lalu berniat,” jelasnya.
Iwan (50) juga menjalankan tradisi yang sama. Ia mengaku sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya melakukan mandi panggir menjelang Ramadan sejak dirinya kecil.
“Saya suka dengan aroma rempah-rempahnya. Seperti memberikan efek relaksasi dan keharuman alami yang menyegarkan tubuh sebelum berpuasa,” ujarnya.
Menurutnya, setelah Marpangir tubuh terasa lebih segar dan wangi.
Tradisi Marpangir ini terus bertahan di tengah masyarakat Sumatera Utara. Di balik aroma serai wangi dan daun nilam yang direbus, tersimpan keharuan, kenangan masa kecil, dan harapan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. (Monang Sitohang)

