MEDAN, PILAR MERDEKA – Deretan motor jadul (jaman dulu) alias tergolong motor usia tua tampak terpajang di depan rumah Babe Koko di Jalan Letda Sujono, Gang Seram, Kota Medan, menyimpan kesan perjalanan panjang tentang cerita kendaraan bermotor di Sumatera Utara (Sumut).
Di antara koleksi itu, ada motor buatan 1941, becak mesin khas Medan, hingga kendaraan buatan Eropa yang kini semakin sulit ditemukan.
Bagi Babe Koko, setiap kendaraan bukan sekadar besi tua yang berkarat. Kendaraan-kendaraan itu merupakan bagian dari sejarah yang ia rawat selama bertahun-tahun. Sebagian masih dapat digunakan, sedangkan lainnya sedang menjalani proses perbaikan agar kembali menarik dan memiliki nilai jual.
Pria yang telah pensiun dari Bank Negara Indonesia (BNI) ini mengoleksi sekitar 70 unit motor tua. Ia mulai mengumpulkannya pada 2008, satu per satu, hingga koleksinya memenuhi halaman rumah.
Berawal dari Satu Motor pada 2008

Babe Koko mengaku mulai mencari motor tua setelah terpengaruh ajakan teman-temannya pada 2008. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi kegiatan mengoleksi kendaraan klasik.
“Dulu DKW harganya Rp700 ribu, uang ngecatnya Rp1 juta. Jadi kalau ada uang Rp1 juta, saya beli saja satu lagi. Untuk ngecatnya nanti-nanti,” ujarnya saat ditemui dikediamannya, di Jalan Letda Sujono, Gg. Seram, Minggu (11/10).
Pada masa itu, ia lebih memilih membeli kendaraan yang masih bisa ditemukan dengan harga terjangkau. Urusan memperbaiki tampilan dapat dilakukan kemudian, ketika ada dana.
Cara tersebut membuat jumlah koleksinya terus bertambah. Namun, tidak semua kendaraan langsung terlihat bagus. Sebagian masih dalam kondisi kurang terawat dan membutuhkan perbaikan.
Menurut Babe Koko, ada teman-temannya yang setuju dengan kebiasaannya membeli motor tua, tetapi ada pula yang tidak sependapat. Meski demikian, ia tetap melanjutkan pencarian karena kendaraan-kendaraan tersebut semakin sulit ditemukan.
“Yang jual ini tidak ada lagi. Sedangkan tukang catnya akan tetap ada, dua sampai empat tahun lagi. Nanti kalau ada rezeki, saya cat dan saya jual,” tuturnya, sambil menikmati sarapan pagi.
Kini, setelah pensiun, Babe Koko mulai menata kembali koleksinya. Kendaraan yang dahulu dibeli dan disimpan satu per satu mulai dipersiapkan untuk diperindah dan dijual.
Baginya, mengoleksi motor tua bukan hanya soal kepemilikan. Ia juga melihat peluang investasi dari kendaraan yang memiliki nilai sejarah.

BSA 1941, Motor Tertua Koleksi Babe
Di antara sekitar 70 kendaraan yang dimilikinya, motor BSA tahun 1941 menjadi salah satu koleksi paling tua. Babe Koko memiliki dua unit BSA tahun tersebut. Satu berupa sepeda motor roda dua, sedangkan satu lainnya sedang diproses untuk menggunakan gandengan menyerupai kendaraan yang digunakan tentara Nazi.
Ia juga memiliki dua unit BSA tahun 1956.
Babe Koko menjelaskan bahwa seluruh unit dalam koleksinya masih bisa dihidupkan. Kendaraan yang lama tidak digunakan biasanya memerlukan pemeriksaan dan pembersihan busi sebelum kembali dinyalakan.
“Semua unit saya bisa jalan. Paling karena sudah lama tidak dihidupkan, bersihkan businya,” katanya.
Koleksinya tidak hanya berasal dari satu merek atau negara. Ada sepeda motor Jawa tahun 1961 buatan Cekoslowakia, sejumlah motor DKW buatan Jerman, serta kendaraan lain yang sebagian besar diperoleh dari wilayah Sumatera Utara.
Untuk mendapatkannya, Babe Koko mencari kendaraan hingga ke luar daerah. Koleksi terjauh yang disebutkannya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Ia juga memiliki satu unit motor yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Becak Mesin DKW 1957
Salah satu kendaraan yang menarik perhatian di halaman rumah Babe Koko adalah becak mesin DKW buatan Jerman tahun 1957. Kendaraan ini mengingatkan pada masa ketika becak bermotor menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Medan.
Becak tersebut menggunakan mesin asli. Cara menghidupkannya berbeda dari kendaraan modern karena pengendaranya harus mengayuh pedal atau melakukan goes untuk menyalakan mesin.
Sistem pengeremannya menyerupai rem torpedo pada sepeda, yaitu dengan mengayuh pedal ke arah belakang. Sementara itu, sistem perpindahan giginya memiliki tiga percepatan, seperti yang dijelaskan Babe Koko ketika memperlihatkan kendaraan tersebut.
Meski kapasitas mesinnya hanya 50 cc, becak ini dirancang untuk mengangkut penumpang.
Pengendara berada di depan, sedangkan penumpang duduk di bagian gandengan. Dengan konstruksi yang berat, kendaraan ini menjadi contoh menarik dari teknologi transportasi pada masanya.
“Minyak campur 50 cc aja. Bayangkan, 50 cc bisa bawa penumpang dua orang. Pengendaranya, becaknya lagi kan berat,” ujarnya.
Menurut Babe Koko, kemampuan kendaraan itu tidak bisa dinilai hanya dari ukuran mesinnya. Ia bahkan menyebut ada pengguna yang membawa becak jenis tersebut hingga ke Padang.
Becak yang sedang diperlihatkannya telah ia miliki selama sekitar tiga tahun. Sementara itu, satu unit lain yang kondisinya lebih berkarat telah disimpan selama tujuh tahun.
Babe Koko kemudian memutuskan mempercantik salah satu unitnya. Bagian-bagian kendaraan yang memerlukan perbaikan ditangani, sementara bodinya diperindah melalui proses pengecatan dan pelapisan krom.
Kendaraan yang telah dipercantik itu ditawarkan dengan harga Rp35 juta. Sementara itu, unit lainnya masih membutuhkan perhatian lebih sebelum tampil menarik.
Di balik proses tersebut, terlihat bagaimana sebuah kendaraan tua dapat memiliki dua nilai sekaligus: sebagai peninggalan sejarah transportasi dan sebagai barang koleksi yang berpotensi menghasilkan keuntungan.

Dari Becak Dayung ke Betor
Babe Koko juga menyimpan cerita mengenai perkembangan becak di Medan. Menurut pengetahuannya, pada era 1960-an, becak dayung masih digunakan sebelum becak bermotor (betor) seperti DKW mulai muncul dan berkembang.
Setelah itu, muncul berbagai jenis kendaraan dan model lain, termasuk A100 serta motor-motor yang kemudian dikenal masyarakat hingga masa berikutnya.
Ia mengaku ingin melengkapi koleksinya dengan berbagai jenis becak dari sejumlah daerah, seperti becak Medan, becak Padangsidimpuan, dan becak Siantar.
Keinginannya tersebut berangkat dari ketertarikan terhadap bentuk dan cara kerja kendaraan yang pernah digunakan masyarakat pada masa lalu.
Babe Koko juga pernah mendengar cerita tentang becak bermesin yang bentuknya menyerupai becak dayung, tetapi menggunakan mesin yang dipasang pada bagian belakang. Ia mengatakan belum pernah melihat kendaraan itu secara langsung.
Namun, ia pernah berbincang dengan seorang tukang becak yang menceritakan bentuk dan cara kerja kendaraan tersebut. Berdasarkan penuturan orang itu, mesinnya dipasang seperti tambahan pada kendaraan, dengan sistem penggerak menggunakan sabuk.
Cerita tersebut memperlihatkan bahwa sejarah transportasi tidak selalu tersimpan dalam dokumen tertulis. Sebagian pengetahuan juga bertahan melalui pengalaman orang-orang yang pernah menggunakan atau menyaksikan kendaraan itu.

Bemo Kembali ke Jejak Pemiliknya
Selain becak mesin DKW, Babe Koko memiliki sebuah bemo yang diperkirakan berasal dari era 1960-an. Kendaraan tersebut jarang digunakannya.
Bak bemo itu masih mempertahankan bentuk asli khas Medan, meskipun kondisinya telah keropos sehingga harus dibuat ulang. Ukurannya tetap mengikuti bentuk sebelumnya.
Babe Koko mendapatkan kendaraan tersebut di Padang. Ketika memeriksa surat-suratnya, ia menemukan informasi bahwa pemilik terdahulunya merupakan warga Medan yang berasal dari kawasan Brayan.
Menurut penelusuran melalui dokumen yang ia lihat, kendaraan itu dahulu dibawa dari Medan ke Padang.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari kegiatan koleksinya. Sebuah kendaraan yang ditemukan di luar daerah ternyata memiliki kaitan dengan kota tempat tinggalnya.
Bagi Babe Koko, kisah semacam ini menambah alasan untuk mempertahankan kendaraan lama. Bentuknya memang dapat diperbaiki, tetapi cerita perjalanan dan asal-usulnya memberikan nilai tersendiri.
DKW Hummel

Koleksi Babe Koko juga mencakup DKW Hummel tahun 1965, sepeda motor buatan Jerman dengan desain yang berbeda dari motor modern.
Salah satu ciri khasnya adalah tangki bahan bakar yang menyatu dengan batang rangka utama. Menurut keterangan mengenai kendaraan tersebut, kapasitas tangkinya sekitar 3,5 liter.
Desain ini menggunakan konsep rangka baja tekan atau pressed steel frame. Dengan konstruksi tersebut, bagian rangka sekaligus berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan bakar.
Babe Koko menjelaskan bahwa motor tersebut terasa lebih nyaman saat digunakan. Ia juga memperlihatkan sejumlah kendaraan DKW lainnya yang memiliki karakteristik berbeda.
Di halaman rumahnya terdapat enam unit DKW, termasuk DKW 125 cc yang kerap disebut orang sama DKW Union.
Sebagian motor DKW lainnya telah dimodifikasi menjadi becak. Dalam proses itu, bagian tangki asli dipotong atau disesuaikan agar kendaraan dapat dipasangi gandengan.
Akibatnya, sejumlah unit tidak lagi berada dalam kondisi orisinal. Namun, mesin dan bagian-bagian asli yang masih dipertahankan tetap menjadi bagian penting dari koleksi tersebut.
COMOT di Medan

Kecintaan terhadap kendaraan klasik juga mempertemukan Babe Koko dengan sesama penggemar motor tua melalui Comunitas Motor Tua atau Comot.
Komunitas ini berdiri pada Juli 2008. Saat ini, anggotanya berjumlah 28 orang yang tersebar di Kota Medan dan sekitarnya, termasuk Binjai serta Lubuk Pakam.
Kehadiran comunitas menjadi bagian dari perjalanan Babe Koko dalam mengenal dan mengumpulkan kendaraan klasik. Dari lingkungan pertemanan itulah ketertarikannya terhadap motor tua semakin berkembang.
Bagi para penggemarnya, kendaraan klasik menawarkan pengalaman yang berbeda dari kendaraan masa kini. Setiap unit memiliki karakter, bentuk, teknologi, dan riwayat yang tidak selalu sama.
Perawatan motor tua juga menuntut perhatian terhadap kondisi mesin, kelengkapan komponen, serta upaya menjaga bagian-bagian yang masih asli.
Hal itu terlihat dari cara Babe Koko merawat koleksinya. Kendaraan yang belum digunakan dalam waktu lama tetap diperiksa, sedangkan unit yang ingin dijual dipersiapkan agar tampil lebih baik.
Memelihara Sejarah, Sembari Investasi

Setelah pensiun dari BNI, Babe Koko memasuki tahap baru dalam mengelola koleksinya. Jika sebelumnya ia lebih banyak membeli dan menyimpan kendaraan, kini ia mulai memilih unit yang akan diperindah dan dijual.
Sebagian koleksi masih ingin dipertahankannya. Sebagian lainnya dipersiapkan untuk menjadi investasi.
Keputusan tersebut tidak menghapus ketertarikannya terhadap sejarah. Justru melalui kendaraan-kendaraan itu, ia berusaha mempertahankan jejak teknologi dan transportasi yang pernah digunakan masyarakat.
“Saya memelihara sejarah sembari investasi,” kata Babe Koko.
Kalimat itu merangkum perjalanan panjangnya mengumpulkan motor tua sejak 2008. Dari kendaraan yang dahulu dibeli satu per satu dengan dana terbatas, kini terkumpul sekitar 70 unit dengan berbagai merek, tahun produksi, dan kondisi.
Di halaman rumahnya, motor-motor tua itu berdiri berdampingan. Ada yang telah dipercantik, ada yang masih berkarat, dan ada pula yang sedang menjalani proses perbaikan.
Sebagian mungkin akan berpindah tangan kepada kolektor lain. Namun, selama masih dirawat dan dikenali asal-usulnya, kendaraan-kendaraan tersebut tetap menyimpan cerita tentang masa lalu.
Bagi Babe Koko, usia tua bukan alasan untuk membiarkan semuanya terlupakan. Selama masih ada kesempatan untuk merawat, memperbaiki, dan mengenalkan kembali kendaraan itu kepada orang lain, sejarah masih memiliki tempat untuk hidup. (Monang Sitohang)

