BerandaPariwisataLima Destinasi Wisata di Indonesia Peduli Penyandang Disabilitas

Lima Destinasi Wisata di Indonesia Peduli Penyandang Disabilitas

PILAR MERDEKA – Destinasi wisata yang peduli dan ramah terhadap penyandang disabilitas menjadi perhatian tersendiri bagi para pengelola wisata di Indonesia.

Hal ini agar penyandang disabilitas mendapat kesempatan yang sama untuk menikmati suasana berwisata. Ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari kualitas pelayanan destinasi wisata.

Jalur yang dapat dilalui pengguna kursi roda, informasi yang mudah dipahami pengunjung Tuli, penanda taktil dan huruf braille bagi pengunjung netra, toilet aksesibel, hingga petugas yang memiliki kemampuan dasar bahasa isyarat menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan.

Sejumlah destinasi wisata di Indonesia mulai menunjukkan upaya menuju layanan yang lebih inklusif. Berikut lima diantaranya yang dihimpun Pilar Merdeka.Com dari laman kemenpar.go.id, Kamis (1/10), dapat menjadi referensi bagi wisatawan berkebutuhan khusus.

1. Taman Safari Bali, Gianyar

Wisata
Aneka satwa di Bali Safari & Marine Park atau Taman Safari Bali, di Gianyar(Dok. https://www.balisafarimarinepark.com)

Taman Safari Bali menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata satwa dengan alur kunjungan yang relatif terarah.

Informasi pemesanan resmi menyebut kawasan ini ramah kursi roda. Pengunjung pengguna kursi roda juga dapat datang dan memanfaatkan layanan penyewaan kursi roda di terminal utama.

Konsep safari menjadi salah satu kemudahan karena sebagian pengalaman dilakukan menggunakan kendaraan atau tram. Dengan begitu, pengunjung tidak harus berjalan kaki dalam jarak yang terlalu jauh.

Namun, kebutuhan akses pada setiap aktivitas dapat berbeda. Pengunjung sebaiknya menanyakan akses menuju pertunjukan, titik naik dan turun kendaraan, serta ketersediaan pendamping sebelum memulai perjalanan.

Datang lebih awal juga dapat membantu. Pengunjung memiliki waktu lebih banyak untuk mengenali kawasan dan berdiskusi dengan petugas mengenai kebutuhan selama berada di lokasi.

2. Museum Geologi, Bandung

Museum Geologi Bandung menawarkan wisata edukasi mengenai sejarah bumi, fosil, mineral, hingga kebencanaan.

Destinasi ini juga menunjukkan upaya untuk meningkatkan pelayanan yang lebih inklusif.

Pada 2025, Museum Geologi menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi pegawai mengenai budaya Tuli dan Bahasa Isyarat Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan publik.

BACA JUGA  Desa Tuktuk Siadong "Rumah" Bagi Wisman

Langkah tersebut menunjukkan bahwa aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan.

Kemampuan petugas dalam berkomunikasi dengan pengunjung juga menjadi bagian penting dari pelayanan yang setara.

Sebelum berkunjung, pengunjung disarankan menghubungi layanan kunjungan untuk menanyakan akses antar lantai, toilet, area istirahat, pendamping, serta dukungan komunikasi yang tersedia pada hari kunjungan.

3. Kebun Raya Bogor, Bogor

Wisata
Kebun Raya Bogor. (Sumber: kebunraya.id)

Kebun Raya Bogor dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati ruang hijau, koleksi tumbuhan, dan suasana yang lebih teduh.

Laman resminya menyediakan peta, panduan pengunjung, pusat informasi, serta pilihan rute wisata.

Namun, kawasan yang luas dan karakter jalur luar ruang membuat perencanaan perjalanan menjadi penting. Hal ini terutama berlaku bagi pengguna alat bantu mobilitas atau pengunjung yang mudah mengalami kelelahan.

Pengunjung dapat menentukan beberapa titik yang ingin didatangi agar perjalanan tidak terlalu padat.

Visitor Center juga dapat dihubungi untuk menanyakan pintu masuk yang paling sesuai, kondisi rute, pilihan transportasi internal, lokasi toilet, serta tempat duduk terdekat.

Karena cuaca Bogor dapat berubah dengan cepat, membawa pelindung hujan dan minuman pribadi juga dapat membantu selama perjalanan.

4. Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh

Wisata
Sumber: wonderfulimages.kemenpar.go.id

Museum Tsunami Aceh menghadirkan pengalaman yang berbeda. Museum ini menggabungkan fungsi memorial, edukasi kebencanaan, dan ruang publik dalam satu bangunan.

Materi pameran mengajak pengunjung memahami peristiwa tsunami, proses pemulihan, serta pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pengalaman di dalam museum melibatkan lorong, perubahan cahaya, suara, dan perpindahan dari satu ruang ke ruang lainnya.

Karena itu, pengunjung dengan kebutuhan sensorik atau mobilitas tertentu sebaiknya menyiapkan rute sebelum datang.

Situs resmi museum menyediakan informasi mengenai akses publik. Namun, rincian layanan aksesibilitas tetap perlu dikonfirmasi langsung sebelum kunjungan.

BACA JUGA  Pj Gubsu Sebut Kejuaraan Wisata Rally Ramadan 2024 ‘Unik'

Pendamping juga dapat membantu mengatur tempo perjalanan, menentukan ruang yang lebih nyaman, serta mengantisipasi bagian pameran yang mungkin terasa intens bagi sebagian pengunjung.

5. Sea World Ancol, Jakarta

Wisata
Sea World Ancol, Jakarta (Sumber: ancol.com) 

Sea World Ancol menawarkan wisata edukasi biota laut di dalam ruangan. Kondisi ini dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati wisata tanpa terlalu banyak terpapar panas atau hujan.

Akuarium berukuran besar, terowongan bawah air, dan sesi pemberian makan biota laut menjadi bagian dari pengalaman wisata di kawasan tersebut.

Ancol juga menyatakan komitmen untuk terus memberikan kemudahan akses serta menambah fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas.

Meski demikian, kebutuhan setiap pengunjung tetap perlu diperhatikan secara khusus.

Sebelum datang, pengunjung dapat memastikan akses dari area turun kendaraan, jalur bebas tangga, lokasi toilet aksesibel, kondisi kepadatan pengunjung, serta posisi yang sesuai untuk menyaksikan pertunjukan.

Memilih hari kerja atau datang pada awal jam operasional dapat membantu pengunjung bergerak dengan lebih nyaman.

Ramah Disabilitas

Istilah ramah disabilitas tidak dapat dianggap sebagai standar yang sama untuk setiap pengunjung.

Pengguna kursi roda memiliki kebutuhan yang berbeda dengan pengunjung netra, Tuli, autistik, lansia, atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Karena itu, konfirmasi langsung kepada pengelola tetap penting sebelum perjalanan.

Pengunjung dapat menanyakan kondisi jalur dari pintu masuk hingga area utama, kemiringan ramp, keberadaan lift, toilet aksesibel, tempat istirahat, kemungkinan meminjam kursi roda, aturan bagi pendamping, layanan prioritas, serta prosedur evakuasi.

Jika membutuhkan juru bahasa isyarat, deskripsi audio, ruang tenang, atau bantuan tertentu, kebutuhan tersebut sebaiknya disampaikan secara jelas kepada pengelola.

Informasi Aksesibilitas Perlu Diperkuat

Selain fasilitas fisik, pemerataan informasi menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata inklusif.

Sejumlah destinasi mungkin telah menyediakan jalur landai atau petugas pendamping. Namun, informasi mengenai fasilitas tersebut belum selalu mudah ditemukan sebelum wisatawan datang.

BACA JUGA  Sambut Libur Sekolah, Kemenpar ajak "Liburan Cara Baru #DiIndonesiaAja"

Bagi pengunjung Tuli, informasi dapat diperkuat melalui teks yang jelas, papan visual, takarir pada video, alarm visual, serta petugas yang memahami dasar komunikasi inklusif.

Bagi pengunjung netra, fasilitas seperti penanda braille, jalur pemandu, peta taktil, kontras warna, dan deskripsi audio menjadi bagian yang perlu dikembangkan secara konsisten.

Artinya, aksesibilitas tidak cukup hanya dengan membangun ramp. Fasilitas fisik harus berjalan bersama dengan informasi dan pelayanan yang dapat digunakan oleh pengunjung dengan kebutuhan berbeda.

Lima Destinasi, Lima Pendekatan

Kelima destinasi tersebut
menunjukkan bentuk upaya yang berbeda dalam mendukung wisata yang lebih inklusif.

Taman Safari Bali memberikan kemudahan bagi pengguna kursi roda. Museum Geologi memperkuat kompetensi komunikasi inklusif. Kebun Raya Bogor menyediakan berbagai informasi untuk membantu perencanaan kunjungan.

Museum Tsunami Aceh menghadirkan pengalaman edukasi yang membutuhkan perencanaan rute, terutama bagi pengunjung dengan kebutuhan sensorik atau mobilitas tertentu.

Sementara itu, Ancol menyatakan komitmen untuk meningkatkan kemudahan akses dan fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas.

Rekomendasi tersebut bukan penilaian mutlak terhadap masing-masing destinasi. Setiap pengunjung tetap perlu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan aksesibilitas masing-masing.

Wisata Inklusif Memberikan Manfaat Lebih Luas

Tempat wisata yang aksesibel tidak hanya memberikan manfaat bagi penyandang disabilitas.

Jalur yang aman juga dapat membantu lansia dan keluarga yang membawa kereta bayi. Informasi visual dapat memudahkan pengunjung ketika berada di tengah keramaian.

Petunjuk yang sederhana dan mudah dipahami juga membuat pelayanan lebih mudah digunakan oleh masyarakat secara luas.

Dengan perencanaan dari pengunjung dan peningkatan layanan secara berkelanjutan dari pengelola, pariwisata Indonesia dapat bergerak menuju ruang rekreasi yang lebih setara.

Sebelum berangkat, pengunjung sebaiknya selalu memeriksa kanal resmi masing-masing destinasi untuk memastikan jam operasional, harga tiket, jadwal atraksi, serta kondisi fasilitas terbaru. (Mons)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH