BerandaTransportasiNostalgia di 7 Destinasi Wisata Sejarah KAI

Nostalgia di 7 Destinasi Wisata Sejarah KAI

PILAR MERDEKA – Wisata sejarah Kereta Api Indonesia (KAI) bukan sekadar perjalanan melihat lokomotif dan bangunan usang yang sudah ada sejak zaman kolonial. Di balik itu, tersimpan perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia yang berusia lebih dari satu setengah abad.

Sejarah KAI bermula ketika pencangkulan pertama jalur kereta api dilakukan pada 17 Juni 1864 di kawasan Kemijen, Semarang, Jawa Tengah. Jalur tersebut kemudian resmi beroperasi pada 10 Agustus 1867.

Sejak saat itu, jalur kereta api terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Kereta api menjadi salah satu tulang punggung transportasi yang menghubungkan berbagai kota.

Jejak perjalanan panjang tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Museum, stasiun tua, lokomotif uap, hingga perjalanan menggunakan kereta dan lori wisata menjadi bagian dari warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Menjelang Hari Kereta Api Indonesia pada 28 September, berikut tujuh destinasi wisata sejarah kereta api yang menawarkan pengalaman berbeda sekaligus membawa pengunjung mengenal kembali perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.

1. Museum Kereta Api Ambarawa

KAI
Museum Ambarawa berada di Jl. Stasiun No.1, Panjang Kidul, Panjang, Kec. Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Foto: niagatour

Di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebuah bangunan tua masih menyimpan banyak cerita tentang perjalanan kereta api masa lampau.

Bangunan tersebut adalah Museum Kereta Api Ambarawa, yang menempati bekas Stasiun Kereta Api Willem I atau Stasiun Kereta Api Ambarawa.

Stasiun tersebut didirikan pada 1873. Hingga kini, suasana asri dan berbagai ornamen kuno peninggalan kolonial Belanda masih terlihat di kawasan museum.

Pengunjung dapat melihat sekitar 26 lokomotif uap peninggalan Belanda yang ditempatkan di berbagai sudut museum.

Salah satu koleksinya merupakan lokomotif yang dahulu digunakan pada jalur rel kereta api bergigi dan curam antara Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono.

Bukan hanya lokomotif. Museum ini juga menyimpan berbagai dokumentasi dan peralatan teknis perkeretaapian masa lampau.

Ada seragam pegawai, tiket, stempel, hingga tongkat semboyan kereta api yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan perkeretaapian Indonesia.

Bagi penggemar sejarah dan fotografi, bangunan yang menjadi cagar budaya ini menawarkan suasana nostalgia. Setiap sudutnya memperlihatkan perpaduan antara arsitektur lama dan lingkungan yang masih asri.

Pengalaman tersebut dapat dilanjutkan dengan menaiki Kereta Wisata Heritage menggunakan kereta kayu klasik pada rute Ambarawa-Tuntang pulang-pergi.

Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menikmati pemandangan Danau Rawa Pening dan Gunung Telomoyo.

2. Museum Kereta Api Bondowoso

Tidak banyak orang mengetahui bahwa Bondowoso, Jawa Timur, juga memiliki museum kereta api.

Namanya Museum Kereta Api Bondowoso. Museum ini diresmikan pada 17 Agustus 2016 dan menempati bekas Stasiun Bondowoso yang dibangun pada 1893.

Stasiun tersebut berada di jalur kereta api nonaktif Kalisat-Panarukan.

Pada awalnya, Stasiun Bondowoso melayani angkutan penumpang serta berbagai komoditas seperti tembakau, gula, kopi, dan teh di lintas Jember-Kalisat-Panarukan sejak 1897.

Namun, jalur tersebut kemudian dinonaktifkan pada 2004. Penyebabnya adalah kondisi infrastruktur yang menua serta pergeseran mobilitas penumpang dan logistik menuju jalur Jember-Kalisat-Banyuwangi.

BACA JUGA  Menhub Cek Kesiapan Transportasi Udara Pada Angkutan Lebaran 2024 

Di balik bangunan museum tersebut tersimpan salah satu bagian sejarah yang paling menyentuh.

Pengunjung dapat melihat Replika Gerbong Maut, yang menjadi pengingat peristiwa pada 23 November 1947 saat Agresi Militer Belanda I.

Sebanyak 100 tawanan pejuang Republik Indonesia dibawa menuju Surabaya menggunakan tiga gerbong kereta barang tertutup tanpa ventilasi.

Perjalanan tersebut berakhir tragis. Sebanyak 46 orang meninggal dunia karena kehabisan oksigen, kepanasan, dan kelaparan sepanjang perjalanan.

Karena itu, koleksi Gerbong Maut bukan sekadar benda sejarah. Ia menjadi pengingat atas penderitaan manusia yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Selain replika tersebut, museum juga menyimpan berbagai peralatan operasional perkeretaapian dan dokumentasi masa lampau.
Di antaranya lampu, stempel, tiket Edmonson, serta foto pembangunan jalur kereta api di berbagai wilayah Indonesia.

3. Heritage Trainz Loco Tour Cepu

Kai
Museum kereta Heritage Trainz Loco Tour Cepu. Foto: blorakab.go.id

Dari Bondowoso, perjalanan sejarah kereta api berlanjut ke Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Namanya Heritage Trainz Loco Tour Cepu.

Destinasi ini menawarkan pengalaman berbeda karena pengunjung tidak hanya melihat benda bersejarah, tetapi juga menaiki kereta api untuk menyusuri jalur bersejarah di kawasan hutan jati. Destinasi tersebut dikelola oleh KPH Perhutani Cepu.

Sebelum menjadi tempat wisata, kawasan ini merupakan kantor sekaligus lokasi penampungan kayu jati yang dilengkapi depo lokomotif dan gerbong.

Pada masa lalu, kereta api digunakan untuk mengangkut kayu jati dari hutan di sekitar Cepu.
Kini, pengunjung dapat menaiki kereta dan menyusuri hutan jati yang sudah ada sejak 1915.

Pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan terasa seperti membuka halaman lama sejarah. Perkampungan, pedesaan, jembatan tua, dan hutan jati menjadi bagian dari perjalanan.

Dahulu, jalur kereta api tersebut membentang hingga kawasan Gubug Payung di tengah hutan jati.

Namun, setelah jembatan kereta api Buk Brosot di jalan raya Cepu-Blora terputus, rutenya kini hanya sampai Jembatan Batokan dengan panjang sekitar 5 kilometer.

Meski rutenya lebih pendek, kondisi tersebut tidak mengurangi minat masyarakat untuk menikmati perjalanan wisata sejarah kereta api di kawasan Cepu.

4. Lori Wisata Kaliraga Kalibaru

KAI
Lori Wisata Kaliraga Kalibiru. Foto: Tempatwisata.pro

Jika museum dan kereta wisata terasa terlalu biasa, perjalanan menggunakan lori kecil dapat menjadi pengalaman yang berbeda.

Di Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat Lori Wisata Kaliraga.

Pengunjung dapat menyewa lori kecil untuk menyusuri jalur kereta api dari Stasiun Kalibaru menuju Stasiun Garahan.

Pada awalnya, lori tersebut bukan kendaraan wisata. Lori digunakan petugas kereta api untuk melakukan inspeksi dan pengecekan jalur.

Melihat peluang wisata minat khusus, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi IX Jember mulai menyewakan lori tersebut kepada masyarakat sejak 2016 melalui reservasi resmi.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Kalibaru.

Setelah meninggalkan Kalibaru, jalur mulai menanjak dan melewati kawasan hutan serta punggungan Gunung Gumitir.

Di sepanjang perjalanan, terdapat Terowongan Mrawan sepanjang 690 meter.

BACA JUGA  Jelajahi Indonesia dengan Hati, Walking Tour Menghidupkan Cerita

Pengunjung juga melewati jembatan kereta api di atas lembah dengan pemandangan perkebunan kopi. Perjalanan kemudian berlanjut melewati Terowongan Garahan sepanjang 113 meter sebelum berakhir di Stasiun Garahan.

Stasiun tersebut dahulu dikenal dengan penjual Pecel Garahannya. Namun, perjalanan menggunakan lori ini memiliki kondisi operasional yang perlu diperhatikan.

Lori wisata beroperasi secara situasional karena jalurnya merupakan bagian dari jalur kereta api Bangil-Ketapang yang masih aktif digunakan kereta api dari dan menuju Banyuwangi.

Karena itu, informasi mengenai penyewaan perlu dikoordinasikan dengan PT KAI Daop IX Jember.

5. Kereta Api Uap Jaladara Solo

KAI
Sepur Jaladara kereta api uap wisata Surakarta. Foto: dok.Pemerintah Kota Surakarta

Bayangkan sebuah lokomotif uap tua bergerak di tengah kota.

Di sekelilingnya terdapat jalan raya, kendaraan modern, dan aktivitas perkotaan. Namun, yang melintas adalah kereta dengan lokomotif uap dan gerbong kayu klasik.

Pemandangan tersebut dapat ditemukan melalui Kereta Api Uap Jaladara atau Sepur Kluthuk Jaladara di Kota Solo, Jawa Tengah.

Kereta ini disebut sebagai satu-satunya kereta api uap yang melintasi Jalan Slamet Riyadi di tengah Kota Solo.

Lokomotifnya adalah seri D1410 buatan Jerman pada 1920-an. Kereta tersebut terdiri dari dua kereta kayu dengan interior kursi dan eksterior kayu yang memberikan kesan antik.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Solo Kota atau Sangkrah dengan jarak sekitar 5-6 kilometer.

Sepanjang perjalanan, kereta melewati sejumlah destinasi dan landmark Kota Solo.

Di antaranya Museum Radya Pustaka, Museum Batik Danar Hadi, Taman Sriwedari, Loji Gandrung, hingga Patung Slamet Riyadi.

Kereta Api Uap Jaladara tidak digunakan seperti kereta api reguler. Untuk menikmatinya, wisatawan perlu menyewa secara rombongan atau mengikuti open trip pada waktu tertentu.

Karena itu, perjalanan dengan kereta uap ini menjadi pengalaman yang perlu direncanakan terlebih dahulu.

6. Museum Transportasi TMII Jakarta

KAI
Musium tranportasi TMII objek wisata edukatif. Foto: museum.co.id

Sejarah perkeretaapian Indonesia juga dapat dipelajari di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Museum ini dikelola oleh Kementerian Perhubungan.

Koleksinya tidak hanya berkaitan dengan kereta api. Berbagai alat transportasi Indonesia dari masa tradisional hingga modern juga dipamerkan, mulai dari becak, andong, perahu layar, oplet, hingga kereta api.

Salah satu anjungan secara khusus menampilkan koleksi perkeretaapian Indonesia.

Pengunjung dapat melihat sejumlah lokomotif uap yang pernah beroperasi di berbagai jalur kereta api Indonesia.

Ada pula Kereta Api Luar Biasa atau KLB yang pernah digunakan Presiden RI pertama Soekarno ketika memindahkan Ibu Kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.

Pengalaman di museum ini tidak berhenti pada melihat koleksi. Pengunjung juga dapat menaiki kereta wisata untuk berkeliling kawasan Museum Transportasi selama sekitar 15 menit.

Dalam perjalanan tersebut, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi transportasi bersejarah sekaligus melewati replika Terowongan Ijo.

7. Museum Kereta Api Sawahlunto

KAI
Museum Kereta Api Kota Sawahlunto. Foto: nianastiti.com

Perjalanan sejarah kereta api Indonesia tidak hanya berada di Pulau Jawa.

BACA JUGA  Sumut Bakal Dililit Permasalahan Transportasi Angkutan Jalan Raya

Di Sumatra Barat, tepatnya Kota Sawahlunto, terdapat Museum Kereta Api Sawahlunto.

Museum ini menempati bangunan bekas Stasiun Kereta Api Sawahlunto yang telah beroperasi sejak 1894.

Pada masa lalu, stasiun tersebut digunakan untuk mengangkut batu bara Ombilin dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Setelah operasional tambang batu bara berhenti pada 2003, Stasiun Sawahlunto kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Kereta Api Sawahlunto pada 2025.

Perubahan fungsi tersebut dilakukan untuk melestarikan sejarah perkeretaapian di tanah Minang, Sumatra Barat, sekaligus menjadikannya destinasi wisata di Kota Sawahlunto.

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah lokomotif uap seri E1060.

Lokomotif tersebut dikenal dengan julukan Mak Itam.

Pada masa lalu, Mak Itam digunakan untuk menarik kereta api batu bara melewati jalur kereta api Sumatra Barat yang terjal di kawasan Pegunungan Bukit Barisan.

Pada awal pengoperasian museum, wisatawan juga dapat menaiki kereta api kuno yang ditarik Mak Itam dari Stasiun Sawahlunto menuju Stasiun Muaro Kalaban.

Perjalanan tersebut melewati Terowongan Lubang Kalam sepanjang 828 meter. Namun, saat ini kereta wisata tersebut belum beroperasi kembali. Di dalam museum, pengunjung masih dapat melihat berbagai peralatan operasional perkeretaapian masa lampau.

Koleksinya antara lain mesin tiket, alat telekomunikasi, seragam, serta foto-foto perkeretaapian pada era kolonial Belanda. Bangunan museum juga menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung.

Sebagai salah satu cagar budaya nasional, bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut masih terjaga dan terawat. Lingkungan Kota Sawahlunto yang kaya akan warisan peninggalan Belanda semakin memperkuat suasana sejarah di kawasan tersebut.

Menjaga Ingatan di Balik Rel Kereta Api

Hampir 160 tahun perjalanan kereta api di Indonesia meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada sekadar jalur rel.

Di Ambarawa, sejarah terlihat melalui lokomotif dan bangunan stasiun tua. Di Bondowoso, sejarah menghadirkan kisah kemanusiaan yang memilukan melalui Gerbong Maut.

Di Cepu, perjalanan membawa pengunjung masuk ke kawasan hutan jati yang dahulu berkaitan dengan pengangkutan kayu. Di Kalibaru, lori wisata mengajak pengunjung mengikuti jalur terjal di kawasan Gunung Gumitir. Di Solo, lokomotif uap tua bergerak berdampingan dengan kehidupan kota modern.

Di TMII, berbagai koleksi transportasi memperlihatkan perjalanan transportasi Indonesia dari masa ke masa.

Sementara di Sawahlunto, Mak Itam dan jalur pengangkutan batu bara menjadi bagian dari sejarah perkeretaapian di Sumatra Barat.
Tujuh destinasi tersebut memperlihatkan bahwa sejarah kereta api Indonesia bukan hanya sesuatu yang tersimpan di dalam buku.

Sebagian jejaknya masih dapat dilihat, disentuh, dan dalam beberapa destinasi bahkan dapat dirasakan melalui perjalanan langsung.

Menjelang Hari Kereta Api Indonesia pada 28 September, destinasi-destinasi tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang perkeretaapian sekaligus memahami bahwa setiap rel, stasiun, gerbong, dan lokomotif memiliki bagian dalam cerita sejarah Indonesia. (Mons-sumber kemenpar.go.id)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH