BATU BARA, PILAR MERDEKA – Bebek atau entok basor rendang bukan sekadar hidangan biasa di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Di daerah ini, entok bukan hanya hewan ternak, tetapi simbol kehormatan dalam menyambut tamu dan mempererat silaturahmi keluarga.
Entok basor rendang menjadi cerita menarik dari warga Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara. Di wilayah ini, banyak warga menjadikan ternak entok sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga. Hewan ternak tersebut dipelihara dengan baik, lalu diolah menjadi sajian istimewa saat momen penting.
Entok yang diolah bukan sembarang entok. Jenis yang digunakan adalah entok basor dengan berat lebih dari tiga kilogram. Dagingnya tebal dan padat. Setelah dimasak dengan teknik khusus, daging entok basor kerap diolah menjadi rendang yang kaya cita rasa.
Entok basor rendang disajikan lengkap dengan sayur daun ubi rebus dan sambal belacan. Perpaduan ini menjadi menu khas yang dikenal di Kabupaten Batu Bara. Hidangan tersebut secara khusus disajikan kepada tamu dan sanak famili yang datang berkunjung.
“Daging entok basor rendang dan sayur daun ubi rebus lengkap dengan sambal belacan. Santapan lezat dan nikmat,” ujar Aidi Miski, yang akrab disapa Wak Endit, warga Lingkungan VII, Jalan Kopertis, Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, saat ditemui awak Pilar Merdeka.Com di kediamannya pada Sabtu (7/2).
Bagi masyarakat Indrapura dan sekitarnya, menyajikan entok basor rendang bukan sekadar menyuguhkan makanan. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kepada tamu. Hidangan tersebut juga menjadi kebanggaan daerah yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi serupa juga ditemukan di beberapa desa di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Di Desa Aek Loba, Kecamatan Aek Kuasan, serta Desa Padang Mahondang, Kecamatan Pulau Raja, menu entok basor rendang lengkap dengan sayur daun ubi rebus dan sambal belacan kerap dihidangkan khusus kepada tamu dan keluarga yang datang berkunjung.
Bebek entok basor rendang kini tidak hanya menjadi santapan lezat, tetapi juga identitas kuliner lokal yang sarat makna kebersamaan. Dari usaha ternak sederhana hingga menjadi hidangan penuh kehormatan, entok basor menghadirkan rasa yang tidak hanya nikmat di lidah, tetapi juga hangat di hati. (Fajaruddin Adam Batubara)

