BOGOR, PILAR MERDEKA – Lingkar Diskusi Sawala Dasa Wacana (SDW) yang digelar oleh Daya Putra Bangsa kembali hadir pada edisi ke-11di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jumat, (10/4).
Mengusung tema “Membincang Citra Perempuan Sunda (Nusantara): Mengayuh Cita di Antara Kultur Patriarki, Stigmatisasi, dan Emansipasi”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi generasi muda, khususnya pelajar yang mendominasi peserta.
Bulan April yang identik dengan semangat perjuangan perempuan Indonesia turut menjadi latar kuat diskusi ini. Sosok R.A. Kartini dan Dewi Sartika menjadi rujukan nilai perjuangan emansipasi dan kesetaraan perempuan.
Hadir sebagai narasumber, Halimah Munawir (Owner Obor Sastra), Monika Maya Dora (Ketua Bogor Wanita Berkebaya), serta Titik Sumarti (Ketua Kom50plus) yang masing-masing menyampaikan perspektifnya secara inspiratif.
Pada sesi pertama, Halimah Munawir menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan utama perempuan Sunda dalam meraih cita-cita dan meningkatkan martabat diri. Ia mengingatkan peserta untuk memahami jati diri sebagai urang Sunda.
“Entong ngaku urang Sunda lamun teu apal kana jati dirina,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan makna kata “Sunda” dari sisi etimologi yang berarti terang, bercahaya, serta subur—sebuah filosofi yang menggambarkan peran perempuan sebagai sumber kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam sesi ini, peserta diajak menuliskan cita-cita mereka. Karya tersebut rencananya akan dibukukan oleh Obor Sastra. Meski kegiatan sempat diguyur hujan deras disertai angin kencang, antusiasme peserta tetap tinggi. Halimah bahkan memberikan apresiasi berupa buku karyanya kepada lima peserta tercepat menyelesaikan tulisan.
Memasuki sesi kedua yang dipandu Heri Cokro, diskusi mengerucut pada tantangan nyata perempuan masa kini. Perempuan Sunda, menurutnya, tengah “mengayuh cita” di tengah derasnya arus perubahan—antara pelestarian budaya, tekanan patriarki, stigma sosial, dan tuntutan emansipasi.
Menanggapi hal tersebut, Monika Maya Dora mengajak generasi muda untuk tetap mencintai budaya lokal, termasuk kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia.
“Kebaya jangan sampai punah. Kita harus menjaganya bukan hanya dengan retorika, tetapi dengan tindakan nyata,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pengakuan kebaya sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas bangsa.
Sementara itu, Titik Sumarti menguraikan konsep patriarki, stigmatisasi, dan emansipasi dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda. Ia menjelaskan bahwa patriarki merupakan sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat.
Adapun stigmatisasi (stereotipe), menurutnya, adalah pelabelan yang kerap melemahkan peran perempuan, misalnya perempuan bekerja nafkah dianggap sebagai tambahan (membantu) sehingga boleh diupah lebih rendah.
“Bila pelabelan menyebabkan diskriminasi, maka harus kita sanggah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa emansipasi adalah upaya memperjuangkan perempuan untuk memiliki hak, tanggung jawab, dan kesempatan yang setara dalam mengembangkan diri, sebagai mitra sejajar dengan laki laki dalam membangun negri.
“Bangun kekuatan diri, rajin belajar, miliki keterampilan, dan suara, serta kohesi sosial. Tetap jaga nilai budaya Sunda yang baik, namun tinggalkan hal-hal yang merugikan perempuan,” pesannya.
Hingga menjelang sore, para peserta tetap antusias mengikuti jalannya diskusi, aktif bertanya, dan berdialog secara dinamis. Kegiatan yang berakhir sekitar pukul 17.00 WIB ini ditutup dengan kesimpulan bahwa semangat perjuangan tokoh perempuan harus terus diwarisi.
Melalui momentum bulan Kartini, peserta diajak untuk tetap berpijak pada jati diri bangsa, menjaga budaya, serta terus mengembangkan diri dalam semangat kesetaraan. Nilai-nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan masa depan, khususnya bagi perempuan Sunda dan Nusantara. (Agus Oyenk)

